Mataram (Suara NTB) – Maraknya kasus kriminal yang terjadi di berbagai daerah di Lombok mendapat atensi serius dari sejumlah elemen masyarakat, khususnya tokoh masyarakat. Mulai dari Kematian seorang perempuan di Lombok Barat (Lobar) setelah dicor oleh kekasihnya, terbunuhnya seorang anggota polisi di dekat rumahnya, hingga pembegalan terhadap mahasiswi di Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Kasus kejahatan yang kerap terjadi beberapa waktu terakhir dinilai merupakan akibat dari tergerusnya nilai-nilai adat dan agama di tengah masyarakat.
Ketua Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Sajim Sastrawan pada Kamis (28/8/2025) mengatakan, kemajuan teknologi, arus informasi yang massif, dan perubahan gaya hidup ke arah modernisasi menyebabkan nilai-nilai adat terkikis dan kemudian terlupakan oleh masyarakat.
“Jadi manusia-manusia bangsa Sasak ini sepertinya sudah tidak tertarik lagi pada unggah-ungguh kehidupan yang mempunyai basis sosio-kultural itu yang penuh dengan nilai-nilai yang agung,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan dan pelaksanaan nilai-nilai adat di tengah masyarakat sedemikian penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan jauh dari tindak kejahatan. “Karena dengan cara demikian kita bisa membangun lingkungan kita, membangun rumah tangga kita. Kalau rumah tangga kita sudah terukur, teratur, berdasarkan adat dan budaya kita, maka otomotis lingkungan dan daerah kita ini akan menjadi aman dan nyaman,” jelas Sajim.
Ia menekankan, dalam upaya untuk mencegah dan mengurangi angka kriminalitas di Lombok, tidak bisa hanya mengandalkan tokoh masyarakat saja. Menurut Sajim, peran serta tokoh agama, aparat penegak hukum, dan pemerintah juga sangat dibutuhkan.
Ia menilai, peran elemen masyarakat dan pemerintah saat ini relatif kurang dalam menjaga dan menjamin keamanan warga. Sehingga, persoalan kejahatan di tengah masyarakat semakin marak terjadi.
Sajim juga menyerukan revitalisasi peran keluarga sebagai unit terkecil di tengah masyarakat untuk turut menjaga dan memastikan kesalamatan anak-anaknya. “Artinya marilah kita kembali sama-sama mengintrospeksikan diri mana tugas-tugas kepala keluarga itu harus jelas melaksanakan tugas fungsinya sebagai kepala keluarga yang mengawasi dan mendidik anaknya,” terangnya.
Begitu juga dengan peran serta lembaga pendidikan, Sajim mengajak satuan pendidikan untuk terus memperkuat proses pembelajarannya demi menciptakan siswa-siswi yang memiliki karakter, berahlak, dan memahami laku adat. “Jangan sampai nanti pelajaran adat istiadat, budi pekerti itu kita dikatakan ingin mengembalikan feodalisme,” tuturnya.
Dari rangkaian kasus kejahatan yang terjadi di sejumlah tempat di Lombok, Sajim mengingatkan masyarakat untuk kembali menanamkan dan menerapkan nilai-nilai adat untuk menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan terhindar dari perilaku kejahatan. (sib)



