Selong (Suara NTB) – Kawasan wisata Pantai Labuhan Haji yang kerap disebut sebagai “Mini Ancol” oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) kini terancam hilang. Setiap tahun, abrasi laut terus menggerus bibir pantai hingga 4–5 meter, sehingga mengurangi areal wisata yang selama ini menjadi daya tarik utama masyarakat dan wisatawan.
Pengelola Sunrise Land Lombok (SLL), Qorry Bayyinaturrosi, mengungkapkan abrasi di kawasan tersebut sudah mencapai level mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang ada, luas kawasan wisata Pantai Labuhan Haji sebelumnya mencapai 6,8 hektare. Namun setelah dilakukan pengukuran ulang oleh Dinas Pariwisata Lotim, kini luasnya hanya tersisa sekitar 6,4 hektare. Artinya, sekitar 40 are lahan sudah hilang tergerus ombak.
“Abrasinya memang sangat tinggi, mungkin lebih dari 40 are yang terkikis. Kondisi ini jelas berdampak besar terhadap sektor wisata, karena lahan untuk aktivitas semakin menyempit. Banyak pohon tumbang, area teduh berkurang, dan tentu saja mengurangi daya tarik wisata,” jelas Qorry – sapaan akrabnya, Kamis, 28 Agustus 2025.
Untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, pihak pengelola SLL setiap tahunnya melakukan reboisasi. Namun upaya itu dinilai belum cukup menahan laju abrasi yang terus menggerus kawasan wisata.
Qorry menegaskan, penanggulangan abrasi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kajian ekologis yang komprehensif. Ia mencontohkan, pembangunan groin terminal (GT) atau pemecah gelombang memang berpotensi mengurangi abrasi di satu titik, tetapi juga harus dipastikan tidak menimbulkan masalah abrasi baru di titik lain.
Selain itu, ia berharap agar aset Pemda yang pernah mangkrak selama lima tahun sebelum dikelola oleh anak-anak muda melalui SLL tidak kembali terbengkalai.
“Jangan sampai aset yang dulunya mangkrak karena dibiayai dari pajak masyarakat, lalu direvitalisasi lagi dengan dana masyarakat, akhirnya kembali mangkrak untuk kedua kalinya,” tegasnya.
Menurutnya, orientasi menanggulangi abrasi bukan hanya untuk menyelamatkan aset Pemda, tetapi juga bagian dari menjaga keberlangsungan lingkungan yang lebih luas.
“Menyelamatkan pantai berarti juga menyelamatkan pulau Lombok, menyelamatkan Indonesia, bahkan menyelamatkan bumi,” pungkas Qorry.
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Lotim, Samsul Hakim, mengakui kondisi wisata pantai Labuhan Haji ini mendesak untuk segera ditata. Dia menjelaskan anggaran terbesar akan digunakan untuk membangun jeti atau pemecah gelombang. “Bentuknya seperti jangkar, diikat batu karang,” ungkapnya.
Menurut Samsul, penataan Pantai Labuhan Haji tanpa pembangunan jeti ipercuma. Pasalnya, tingkat abrasi di Pantai Labuhan Haji ini sangat tinggi. “Kalau tanpa jeti ini maka bangunan kita akan hanyut terkena abrasi,” imbuhnya.
Kabid Destinasi ini menyebut, awalnya luas kawasan wisata Labuhan Haji ini sekitar 6,8 hektare. Jumlah itu sesuai dengan luas areal lahan yang telah dibebaskan Pemda Lotim.
Namun, sepanjang tahun 2017-2024 seluas 40 are sudah hilang. “Bayangkan kalau 10 tahun kedepan khawatir hilang semua, sekarang saja sudah terlihat semakin ramping setelah kita hitung luasnya sekitar 6,4 hektare,” ucapnya.
Dispar Lotim kini sudah mengantongi master plan yang disusun bersama dengan bantuan tim ahli dari Unram yang didanai juga oleh Kementerian Pariwisata RI.
Penataan kawasan wisata Labuhan Haji ini diakui saat ini cukup mendesak. Setelah ini, Dispar siap usulkan penataan dengan mengusulkan Detail Engineering Design (DED). Menyusun DED harus mengacu pada master plan. DED yang dibuat akan disesuaikan dengan plafon anggaran. Dispar tidak akan susun yang tidak sesuai menu. Item apa saja yang akan dibuat itulaj yang akan dibuatkan DED. (rus)

