Bima (Suara NTB) – Wakil Bupati Bima, dr. H. Irfan Zubaidy, menegaskan bahwa musibah kebakaran yang kembali terjadi di Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo, harus menjadi pelajaran bersama. Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap sabar sekaligus mencari pola pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ini musibah. Pertama kita harus sabar, kedua kita mengantisipasi agar tidak terulang lagi,” tegas Irfan kepada Suara NTB saat meninjau lokasi kebakaran di Desa Ntonggu, Jumat, 29 Agustus 2025.
Ia meminta Camat Palibelo dan para kepala desa segera melaksanakan rapat koordinasi khusus. Rakor itu akan membahas langkah konkret dalam mengantisipasi kebakaran. “Makanya tadi saya minta kepada pak camat dan kepala desa untuk mengadakan rakor khusus mengantisipasi kebakaran di Kecamatan Palibelo. Sudah ada beberapa poin yang akan kita bahas,” ujarnya.
Rakor tersebut akan menghadirkan Camat, Kapolsek, Danramil, seluruh kepala desa, perwakilan Karang Taruna, hingga para ketua RT. Irfan menekankan pentingnya rapat ini karena kebakaran di Desa Ntonggu berulang. “Tujuannya mengantisipasi terulangnya kejadian kebakaran ini. Ini urgent dilakukan karena berulang, khususnya di Desa Ntonggu,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan rencana menjadikan Kecamatan Palibelo sebagai proyek percontohan pencegahan kebakaran. Masyarakat akan dilibatkan secara langsung dalam upaya tersebut. “Bahkan tadi kita sepakat bahwa Kecamatan Palibelo ini akan jadi trial project. Yaitu keterlibatan masyarakat secara umum untuk mengantisipasi kebakaran. Itu juga rancangan yang akan kita bahas di rakor. Sesegera mungkin, secepatnya,” tegasnya.
Kepala Desa Ntonggu, Agus Setiawan, S.E., mendukung langkah itu dengan mengusulkan pengadaan mobil damkar mini. Ia menyebut masyarakat siap bergotong royong untuk mewujudkan hal tersebut. “Kalaupun disepakati oleh masyarakat khususnya di Desa Ntonggu, kumpulkan seadanya untuk membeli mobil damkar mini,” jelas Agus.
Agus menilai kebutuhan ideal di Kecamatan Palibelo sebanyak tiga unit mobil damkar mini. Satu unit diperkirakan menelan biaya Rp50 juta, sehingga total anggaran mencapai Rp150 juta.
Usulan ini muncul karena Desa Ntonggu sudah berulang kali dilanda kebakaran. Pada 30 Juli 2020, sebanyak 38 rumah hangus terbakar. Kebakaran terbaru pada 26 Agustus 2025 kembali melanda desa itu dengan kerugian materi mencapai Rp1 miliar. (hir)



