Mataram (suarantb.com) – Kabut pagi perlahan menyingkap wajah Gunung Rinjani. Dari lembah Sembalun, aroma tanah basah dan biji kopi yang baru dijemur menguar lembut. Di antara hamparan hijau itu, beberapa petani sibuk memilah biji kopi merah, buah hasil panen dari pohon yang mereka tanam sendiri empat tahun lalu. Di sanalah kisah Lunaco, kelompok tani kopi kecil yang lahir dari semangat kemandirian, dimulai.
Lunaco, singkatan dari Sembalun Agro Coffee, berdiri tahun 2022. Di awal, kelompok ini tak lebih dari mimpi kecil di tengah keterbatasan. Sulman, sang ketua kelompok, masih ingat betul masa-masa awal ketika mereka menanam kopi dengan modal seadanya. Saat itu anggotanya hanya beberapa orang saja, karena petani yang lain masih sibuk menanam hortikultura.
Berbeda dengan tanaman hortikultura yang tumbuh cepat tapi berisiko tinggi, kopi bagi mereka adalah investasi jangka panjang. “Kami sadar, menanam kopi itu butuh kesabaran. Tapi hasilnya lebih menjanjikan dan ramah lingkungan,” ujar Sulman.
Harapan mereka perlahan berbuah. Pada 2023, Lunaco mendapat dukungan dari Pertamina melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sebanyak 2.000 bibit kopi arabika disalurkan kepada anggota, disusul 4.000 batang tambahan pada tahun berikutnya.
“Sekarang totalnya ada sekitar 6.000 batang kopi,” ujar Sulman saat ditemui di kebunnya di kawasan Sembalun Bumbung akhir Agustus lalu.
Tak hanya bibit, Pertamina juga membantu membangun greenhouse untuk pengeringan, mesin pengupas, roasting, hingga alat penjemur modern. Fasilitas ini membuat petani tak lagi tergantung pada cuaca, sesuatu yang dulu menjadi kendala utama.
“Kalau dulu, kopi sering rusak karena kehujanan. Sekarang lebih terkendali,” tambahnya.
Namun, di balik kemajuan itu, Sulman menekankan satu hal: pembinaan berkelanjutan. “Kita bersyukur sudah dibantu Pertamina, tapi dari pemerintah daerah dan pusat belum ada pendampingan,” ujarnya. Ia berharap, program pemberdayaan petani kopi di Sembalun tak berhenti di bantuan fisik, tetapi berlanjut pada penguatan akses pasar dan peningkatan kapasitas petani.
Kopi yang Menyatukan
Kini Lunaco memiliki 65 anggota aktif dengan total lahan sekitar 30 hektare. Dari kelompok inilah lahir berbagai varian kopi Sembalun yang mulai dikenal luas: natural, honey, fullwashed, hingga wine coffee—kopi hasil fermentasi selama satu bulan dengan aroma manis menyerupai anggur.
“Kami belajar mengolah kopi dengan cara yang benar. Dulu orang memetik asal-asalan, sekarang kami ajarkan cara panen selektif hanya buah merah,” jelas Sulman.
Edukasi itu bukan hanya untuk anggota Lunaco. Mereka juga melatih petani di luar kelompok agar kualitas kopi Sembalun tetap terjaga. “Kami tidak mau beli kopi yang dipetik campur. Jadi kami ajarkan dulu cara yang benar,” katanya.
Pemasaran kopi Lunaco kini tak hanya di sekitar Lombok. Beberapa pembeli dari luar daerah, bahkan luar negeri sudah melirik produk mereka. Meski begitu, Sulman mengaku masih memprioritaskan pasar lokal. “Permintaan dari luar ada, tapi belum semua bisa kami penuhi. Pasar di NTB sendiri masih luas,” tambahnya.
Produk Lunaco kini masuk ke berbagai instansi pemerintah dan pelaku UMKM di Mataram. Mereka menjual kopi dalam bentuk bubuk siap seduh maupun green bean untuk pengusaha yang ingin menyangrai sendiri.

Ekonomi Baru dari Kaki Rinjani
Mohammad Roli Wahyudi, Sekretaris Lunaco, mengatakan harga kopi Sembalun cukup menggembirakan. Green bean dijual Rp200 ribu, sementara bubuk kopi bisa mencapai Rp400 ribu per kilogram.
“Harga ini sangat membantu petani, jauh lebih stabil dibanding sayuran,” ujarnya.
Roli bercerita, banyak petani hortikultura kini mulai beralih menanam kopi. “Dulu banyak yang tanam bawang dan kubis. Tapi harga sayur itu tak menentu. Sekarang mereka berpikir jangka panjang. Risiko kopi lebih rendah, hasilnya lebih pasti,” katanya.
Ia mencontohkan, dari 300 pohon kopi saja, seorang petani bisa menutupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya. “Kopi ini memberi harapan baru. Tidak hanya ekonomi, tapi juga kebanggaan,” tambahnya.
Semangat itu menular. Kini, sebagian besar warga Sembalun mulai menanam kopi di sela kebun hortikultura mereka. Bagi mereka, menanam kopi bukan sekadar mencari penghasilan, tapi menjaga tradisi.
“Dulu, sebelum wisata Sembalun seramai sekarang, kopi sudah ada di sini. Tapi sempat dilupakan. Sekarang kopi kembali jadi identitas kami,” ujar Roli.
Soal cita rasa kopi Sembalun, Roli menilai, kopi yang dihasilkan oleh petani di sini memiliki rasa yang khas. Cita rasa kopi juga dipengaruhi oleh ketinggian lahan tempat ditanam serta lingkungan sekitar.
Karena itu ia mengingatkan pentingnya menjaga jarak tanaman kopi dari pohon buah lain. “Kopi itu sensitif. Kalau di sampingnya ada jeruk atau durian, aromanya bisa terbawa ke kopi,” katanya.
Rasa yang Lahir dari Tanah Vulkanik
Keunggulan kopi Sembalun terletak pada karakter rasa yang khas. Ketinggian 1.200–1.300 meter di atas permukaan laut membuat cita rasanya berbeda. “Kopi dari sini punya aroma lebih kuat dan keasaman yang seimbang,” ujar M. Huzaini Areka, Sekretaris Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) NTB.
Menurutnya, tanah vulkanik Rinjani dan Tambora memberi kontribusi besar terhadap kekayaan rasa kopi NTB. “Dua gunung itu menciptakan kesuburan luar biasa. Kopi Sembalun bisa bersaing dengan kopi dari daerah manapun,” katanya.
Huzaini yang juga pemilik gerai Pojok Kopi di Mataram, kerap mengambil pasokan langsung dari petani Sembalun. “Rasanya punya karakter unik, kadang ada sentuhan manis alami, kadang floral. Itu yang dicari para penikmat kopi,” ujarnya.

Pertamina dan Lingkaran Ekonomi Hijau
Radifa Ramadana, Community Development Officer Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Ampenan, menyebut Lunaco sebagai contoh nyata pemberdayaan yang berdampak ganda: ekonomi dan lingkungan. Sejak 2023, pihaknya telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai bibit, mesin penggiling, roasting, hingga pelatihan pupuk dari limbah kulit kopi.
“Kami ingin petani tidak hanya menanam, tapi juga mengolah limbahnya menjadi nilai tambah. Limbah kulit kopi bisa dijadikan pupuk organik, menciptakan sirkular ekonomi,” jelasnya.
Ke depan, Pertamina berencana membantu perbaikan greenhouse dan menambah bibit baru. “Tujuannya agar Lunaco bisa mandiri, berkelanjutan, dan menjadi contoh bagi kelompok tani lain,” ujarnya.
Bagi Radifa, program ini juga bagian dari upaya menjaga ekosistem Rinjani. “Jika hanya hortikultura yang ditanam, risiko longsor dan kerusakan tanah meningkat. Dengan kopi, kami ingin menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Perlu Bantuan BUMN untuk Jaga Kualitas dan Kontinyitas Produksi Kopi
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) NTB II, H. Abdul Hadi, mendorong pemerintah pusat dan badan usaha milik negara (BUMN) untuk terus memberikan perhatian lebih terhadap petani kopi di NTB.
Menurut Abdul Hadi, potensi kopi NTB kini semakin diakui, bahkan mulai menembus pasar internasional. Namun, ia menilai masih diperlukan keseriusan dalam menjaga kualitas dan kesinambungan promosi agar kopi daerah mampu bersaing secara berkelanjutan.
“Saya melihat kopi kita sudah masuk ke pasar internasional, tapi menjaga kualitas serta kontinyuitas dalam promosi harus ada keinginan kuat dari pemerintah,” ujar Abdul Hadi.
Ia menegaskan, BUMN memang tak boleh hanya fokus pada proyek-proyek besar berskala nasional, tetapi juga perlu memperkuat peran dalam mendukung petani dan UMKM lokal. Menurutnya, pelaku usaha kecil kerap kali membutuhkan sentuhan nyata dalam hal modal, pendampingan, dan manajemen pemasaran.
“Saya sepakat lembaga BUMN tidak hanya melihat proyek fisik yang besar-besar, tapi perlu juga mengangkat petani dan UMKM kita. Mereka ini butuh perhatian, baik dari sisi modal maupun manajemen pemasarannya,” katanya.
Abdul Hadi menilai, dukungan Pertamina terhadap pengembangan produk kopi dan hasil perkebunan di NTB tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya alam.
Politisi PKS ini menilai, dari sisi cita rasa, kopi NTB memiliki kekhasan tersendiri yang membuatnya diminati banyak penikmat kopi. “Kalau soal rasa, kopi NTB itu ngangenin. Khas rasanya, dan banyak orang mencarinya,” kata legislator dari Komisi V DPR RI tersebut.
Abdul Hadi berharap ke depan sinergi antara pemerintah pusat, BUMN, dan pemerintah daerah dapat diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan kopi lokal, mulai dari hulu hingga hilir.
Menyeduh Harapan
Kini, di setiap cangkir kopi Sembalun, terseduh kisah kerja keras puluhan petani yang memilih bertahan di tanah sendiri. Dari tangan-tangan itu, lahir biji-biji kopi yang bukan hanya menghidupi keluarga mereka, tapi juga membawa nama Sembalun ke pasar global.
Di sebuah sudut greenhouse bantuan Pertamina, Sulman menatap hamparan biji kopi yang dijemur di atas para-para bambu. Sinar matahari sore menembus kabut tipis, memantulkan kilau keemasan di permukaan biji-biji itu.
Dari kaki Rinjani, Lunaco terus menanam, memetik, dan menyeduh kemandirian ekonomi untuk warganya. (fan)



