spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURSebagian Besar Dapur Belum Terbangun

Sebagian Besar Dapur Belum Terbangun

PROGRAM Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih menghadapi kendala dalam hal pembangunan infrastruktur. Dari total target sebanyak 159 dapur, saat ini hanya 62 unit yang telah dibangun dan beroperasi secara riil.

Koordinator Dapur MBG Lotim, Agamawan menjawab Suara NTB di Selong, Senin, 15 September 2025 mengakui bahwa masih banyak dapur yang belum terbangun. “Saat ini sedang dalam proses percepatan pembangunan oleh mitra agar sesuai dengan petunjuk teknis (juknis),” ujarnya, menegaskan komitmen untuk memenuhi target tersebut.

Untuk mendukung keberlanjutan program, disebutkan adanya rencana kolaborasi dengan Koperasi Merah Putih dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). “Ke depan, Koperasi Merah Putih dan BUMDes akan membantu dalam penyediaan bahan pangan, seperti sayuran. Ada multi-player effect di sini,” jelas Agamawan.

Hal ini diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menjamin pasokan bahan baku yang segar. Dijelaskan pula bahwa investasi untuk membangun satu unit dapur MBG terbilang lumayan besar. Terdapat tiga sistem pengelolaan dapur, yaitu yang dibangun di lahan pemerintah daerah (pemda), sistem mandiri, dan sistem kemitraan.

Menanggapi isu keamanan pangan, seperti kasus keracunan yang pernah terjadi, Agamawan menekankan setiap laporan dari penerima manfaat akan disalurkan melalui mekanisme pemeriksaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi  (SPPG) yang ada di semua dapur MBG. “Kalau hanya satu orang (yang melaporkan), tidak bisa serta-merta disebut Kejadian Luar Biasa (KLB). BPOM juga turun mengecek setiap ada laporan,” tegasnya.

Untuk memastikan kualitas gizi dan keamanan makanan, setiap dapur diawasi oleh tenaga ahli gizi yang telah dibekali dan disertifikasi oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi). Menu makanan dirancang dalam siklus dua minggu dan dievaluasi secara berkala. “Kami membutuhkan tenaga masak yang ahli, bukan junk food. Meski tidak bisa dipungkiri kualitas bisa berbeda antar mitra,” tambah Agamawan.

 Tantangan lain adalah mengedukasi anak-anak untuk menerima makanan sehat yang mungkin rasanya berbeda dari yang mereka kenal. “Kita harus bedakan makan enak dengan makan sehat. Makan sehat sering terasa hambar, seperti di rumah sakit. Namun, ada arahan dari pimpinan untuk menyesuaikan dengan menu lokal,” ucapnya.

Peran guru dan ahli gizi di lapangan dinilai krusial untuk mengedukasi anak-anak agar mau mengubah pola makan mereka menuju yang lebih bergizi.

Di sisi tenaga kerja, SPPG mengarahkan semua proses rekrutmen kepada mitra pelaksana. Setiap dapur merekrut rata-rata 47 orang pekerja, termasuk akuntan dan tenaga SPPG itu sendiri. “Kami mencari yang memiliki skill melalui interview. Kesulitan terbesar kami adalah menemukan ahli gizi yang kompeten,” pungkas Agamawan, menggarisbawahi salah satu hambatan operasional yang masih dihadapi.

Program MBG yang disalurkan sekali dalam sehari ini diharapkan dapat segera mencapai target pembangunan dapurnya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak penerima manfaat di Lotim. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO