Mataram (Suara NTB) – Setelah melaksanakan kelas daring dalam rangka Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis bagi Siswa SMA secara intensif di bulan Agustus 2025, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melaksanakan tahap evaluasi secara daring melalui ruang virtual Zoom bersama 20 sekolah yang telah menjadi peserta, pada Senin, 15 Septemer 2025.
Kegiatan ini sekaligus menjadi kegiatan penutupan Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis bagi Siswa SMA. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dwi Pratiwi hadir untuk memberikan sambutan dan menutup kegiatan secara resmi. Selain itu, tes akhir juga dilaksanakan untuk membandingkan nilai dari siswa yang telah mengikuti bimtek dari awal hingga akhir.
Dwi Pratiwi memberikan pandangan kuat terhadap pergerakan literasi yang dimulai dalam program Bimtek Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis. “Angka kemahiran berbahasa Indonesia di Provinsi NTB masih di angka 27% dan angka kecakapan literasi masih di 47%. Hal ini menjadi dasar penguatan literasi perlu dilaksanakan secara masif dan berkualitas di wilayah Provinsi NTB,” imbuhnya.
Dwi Pratiwi juga berharap bimtek ini menjadi salah satu solusi untuk peningkatan kemahiran berbahasa dan tindak lanjutnya akan selalu dikawal oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. “Seluruh siswa yang mengikuti bimtek ini akan diikutsertakan Uji Kemahiran Bahasa Indonesia sebagai tindak lanjut dan pemantauan peningkatan kemahiran dan kecakapan berbahasa Indonesia,” ujarnya.
Johan Mahyudi, narasumber dari Universitas Mataram memberikan beberapa catatan akhir bagi kegiatan Bimtek Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis bagi Siswa SMA. Ada dua poin penting yang menjadi fokus Johan, yaitu kemampuan membedakan fakta, data, dan opini dalam teks, serta keterampilan membaca cepat sebagai strategi menghadapi soal wacana.
Menurutnya, kemampuan membedakan fakta, data, dan opini dalam teks ekspositori merupakan pengetahuan umum yang harus dikuasai, bukan hanya untuk menjawab soal, tetapi untuk menumbuhkan kemampuan bijak dalam menggunakan media sosial sehingga para siswa tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif.
Keterampilan membaca cepat juga merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh siswa dalam menghadapi soal wacana bahasa Indonesia. Kecepatan ideal yang dianjurkan adalah sekitar 70 kata per menit. Dengan demikian, sebuah soal wacana yang memuat antara 200 hingga 250 kata dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih tiga menit.
Dalam menjawab soal wacana, diperlukan strategi yang tepat agar hasil yang diperoleh lebih efektif. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membaca soal terlebih dahulu untuk memahami permintaan atau arahan yang diberikan. Setelah itu, barulah mencermati bacaan dengan fokus pada ide atau gagasan utama. Umumnya, gagasan utama terletak pada bagian awal atau akhir paragraf, sedangkan hanya pada kasus tertentu gagasan utama berada di tengah paragraf.
Setelahnya, pelaksanaan tes akhir diikuti oleh sebanyak 200 siswa peserta. Tes tersebut diselenggarakan secara daring melalui formulir yang diisi secara mandiri oleh masing-masing siswa. Pelaksanaan tes akhir ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung. (ron)


