MENJELANG perhelatan MotoGP Mandalika yang akan segera digelar di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, tarif hotel di Kota Mataram dilaporkan mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan harga yang mencapai tiga kali lipat dari tarif normal memicu kekhawatiran berbagai pihak, termasuk dari kalangan legislatif.
Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Hj. Bq. Mirdiati, menilai kenaikan tarif tersebut tidak wajar dan berpotensi merusak citra pariwisata yang selama ini dikenal ramah dan terjangkau. Ia mengingatkan bahwa pemerintah provinsi sebenarnya telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) mengenai batas kewajaran tarif hotel, yang seharusnya menjadi acuan bagi para pelaku usaha di sektor perhotelan.
“Menjelang MotoGP, tarif hotel melonjak tinggi sampai tiga kali lipat. Sepertinya ini sudah tidak wajar. Kan sudah ada Pergub tentang tarif hotel,” ujar Mirdiati, kepada Suara NTB, Kamis, 18 September 2025.
Mirdiati mendorong Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram untuk segera turun tangan melakukan patroli dan pengecekan langsung ke lapangan guna mengawasi penerapan tarif akomodasi oleh para pelaku usaha perhotelan. Pengawasan ini dianggap penting untuk menjaga suasana kondusif bagi wisatawan dan memastikan keberlanjutan kegiatan pariwisata di daerah tersebut.
“Dispar perlu memanggil para pengusaha hotel agar tidak menaikkan tarif secara berlebihan. Kenaikan boleh saja, tapi harus tetap dalam batas yang wajar,” tegasnya.
Politisi Partai Gerindra ini mengingatkan bahwa ajang internasional seperti MotoGP merupakan momentum penting untuk memperkuat citra daerah di mata dunia. Maka dari itu, semua pihak harus menunjukkan sikap sebagai tuan rumah yang baik, menciptakan rasa aman dan nyaman bagi setiap tamu yang datang.
“Kita ingin para wisatawan tetap datang berkunjung ke Lombok. Jangan sampai mereka kapok dan tidak ingin kembali lagi hanya karena merasa dirugikan,” katanya.
Mirdiati menekankan bahwa menjaga stabilitas harga juga akan berdampak positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama kunjungan wisatawan terjaga dan berkelanjutan, perputaran ekonomi daerah juga akan terus meningkat.
“Keamanan dan keselamatan wisatawan harus diutamakan. Jangan sampai ada hal-hal yang merugikan mereka, karena itu bisa berdampak buruk pada citra pariwisata kita,” pungkasnya.
Dalam konteks ini, Mirdiati juga mengajak seluruh pelaku industri pariwisata, khususnya sektor perhotelan, untuk menunjukkan komitmen bersama dalam membangun industri yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan. Kenaikan harga yang wajar memang dapat dimaklumi saat ada lonjakan permintaan, namun harus tetap mempertimbangkan aspek etika dan kenyamanan wisatawan. (fit)


