Tanjung (Suara NTB) – Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., bersama Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri, ST., MT., merespon dorongan masyarakat untuk membangun gerbang perbatasan dan adanya pakaian adat yang nantinya digunakan secara resmi oleh masyarakat Lombok Utara. Gagasan tersebut dibuka kedua pimpinan daerah tersebut dalam Coffee Morning bertajuk “Ngopi Bareng Ngobrol Budaya”, di lesehan Sasak Narmada, Kamis, 17 September 2025.
Najmul Akhyar dalam paparannya menyampaikan, desain Gapura dan Pakaian Adat Lombok Utara dipercayakan kepada Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) yang belum lama dibentuk. Tentunya, dalam proses desainnya dapat melibatkan para pakar baik teknik, budayawan, seniman, serta tokoh adat. Pada desain gapura perbatasan dan pakaian adat, merepresentasikan entitas Lombok Utara yang memiliki budaya dan beragam potensi.
“Gerbang budaya ini tidak hanya simbol semata, tetapi bisa merambah ke bidang pendidikan maupun pelayanan publik, sehingga tercipta keseragaman nuansa budaya di berbagai aspek,” kata Najmul.
Ia menyebut, terdapat 3 titik strategis gerbang perbatasan yang akan dibangun. Meliputi, perbatasan Pusuk (KLU-Lobar), perbatasan Malaka (KLU-Lobar), serta perbatasan Sambik Elen (perbatasan KLU – Lombok Timur).
Bupati juga meminta Dewan Kebudayaan merumuskan pakaian adat yang merupakan ciri khas Lombok Utara. Entitas ini menjadi penopang budaya, sekaligus menjadi pendorong mobilitas ekonomi di tingkat penenun.
“Terima kasih kepada Dewan Kebudayaan Daerah, Bappeda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta para tokoh adat dan narasumber yang hadir. Mudah-mudahan kolaborasi ini bisa menjadikan Lombok Utara semakin kuat, baik dari sisi budaya maupun religius,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Lombok Utara, Ir. Hermanto, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya menggali sekaligus melestarikan kekayaan budaya warisan leluhur.
Dari sepuluh objek kebudayaan yang ada, tahun 2025 ini Bappeda memprioritaskan dua program utama, yakni mewujudkan teknologi tradisional dalam bentuk arsitektur khas Lombok Utara serta mengembangkan pakaian adat daerah.
“Melalui forum ini, kita ingin menjadikan budaya bukan hanya sekadar warisan, tetapi juga jalan untuk memajukan masyarakat,” tegas Hermanto. (ari)



