Giri Menang (Suara NTB) – Klaim pemerintah bahwa elpiji 3 Kg tidak langka di masyarakat, berbading terbalik dengan kenyataan di lapangan. Pasalnya hingga kini masyarakat masih kesulitan memperoleh gas melon tersebut. Kondisi itu bahkan terjadi ketika bulan Maulid sudah usai.
Dari pantauan media,elpiji 3 Kg limit. Sehingga gas Elpiji yang baru tiba di agen setelah distribusikan oleh SPPBE, langsung habis dihari itu, diserbu masyarakat. Sayangnya stok gas melon ini tidak memenuhi kebutuhan masyarakat. Informasi yang diperoleh di beberapa tempat, bahwa elpiji ini diduga dipakai dipakai untuk kebutuhan memasak MBG (Makan Bergizi Gratis) dan tembakau.
Kemudian ada juga kuota yang diterima tak sesuai dengan kebutuhan sehingga kelangkaan pun tak terelakkan. Kondisi masih langkanya elpiji inipun dibenarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Barat (Lobar). Sebab dari hasil telahan pihak Disparindag Lobar langsung ke pasar dan masyarakat, mendapatkan jawaban dan fakta masih kekurangan stok gas itu.
“Kondisi di lapangan (masyarakat) tidak bisa kita pungkiri masih ada sedikit gejolak di masyarakat, baik dari sisi ketersedian maupun dari sisi harga,” aku Kepala Disparindag Lobar, Lalu Agha Farabi yang dikonfirmasi, Rabu 24 September 2025.Panic buying yang terjadi di masyarakat atas isu langka sebelumnya dinilainya juga mempengaruhi itu.
‘’Saya sempat ke Pasar Gunungsari dan menayakan kepada pedagang terkait harga gas di tempat tinggalnya, dan mereka sampaikan memang susah didapatkan dan harganya paling mahal Rp 25 ribu,” ucapnya. Menangapi kondisi itu, pihaknya pun telah melakukan langkah-langkah berkoordinasi dengan Pertamina dan Hiswana Migas baik secara lisan maupun tertulis. Pihaknya bersurat ke pihak Pertamina untuk meminta data daftar lengkap agen dan pangkalan elpiji 3 Kg yang beroperasi di wilayah Lobar.
Selain itu mendorong agar Hiswana melakukan operasi pasar elpiji sesuai komitmennya pada saat rapat koordinasi dengan pihak dinas. (her)



