KEBERADAAN anak jalanan (anjal) yang semakin marak di sejumlah titik traffic light di Kota Mataram menuai keluhan dari masyarakat. Mereka datang dengan berbagai modus, mulai dari menjual tisu, menjadi badut, hingga mengamen. Kondisi ini dinilai cukup mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Pantauan media, jumlah anjal di traffic light semakin banyak dan kerap kali membuat lalu lintas menjadi tidak tertib. Menanggapi hal itu, anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, Ni Luh Arini kepada Suara NTB melalui percakapan WhatsApp, Jumat, 17 Oktober 2025.
Luh Arini menilai bahwa peran Dinas Sosial Kota Mataram sangat krusial dalam menangani persoalan ini. “Seharusnya Dinas Sosial lebih gencar melakukan sosialisasi, patroli, dan penertiban agar mengurangi jumlah anjal. Selain itu, perlu juga mendalami asal-usul anak-anak tersebut dan motif mengapa mereka berkeliaran di jalan,” tambahnya.
Tak hanya itu, politisi PDI Perjuangan ini juga menyoroti kemungkinan adanya anak-anak dari luar daerah yang turut menjadi bagian dari fenomena ini. Ia meminta agar Dinas Sosial berkoordinasi dengan dinas terkait di daerah asal anak-anak tersebut untuk mencari solusi jangka panjang. “Kalau memang ada yang bukan anak Kota Mataram, mohon untuk Dinas terkait untuk berkoordinasi dengan Dinas Sosial di daerah asal anak tersebut,” tegasnya.
Luh Arini menekankan pentingnya pendekatan langsung kepada keluarga atau orang tua anak-anak tersebut. Menurutnya, penyebab utama anak-anak berada di jalan kemungkinan besar berasal dari faktor keluarga. “PR terbesarnya ada di sini. Paling bagus memang Dinas harus bersosialisasi langsung ke orang tua anak tersebut,” ujarnya.
Sebab, keberadaan mereka di jalanan, menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan mereka sendiri. Aktivitas di tengah lalu lintas padat tentu berisiko tinggi, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki kesadaran penuh akan bahaya di jalan raya.
Luh Arini menilai bahwa penanganan anjal harus dilakukan secara holistik. “Kita tidak bisa hanya menertibkan tanpa mengetahui akar masalahnya. Bisa jadi faktor ekonomi, pendidikan, atau kondisi keluarga menjadi penyebab utama,” ujarnya.
Oleh karena itu, perlu penanganan serius dan terpadu. Sebab, fenomena anjal bukanlah hal baru di Kota Mataram, namun tren peningkatannya akhir-akhir ini menunjukkan perlunya perhatian lebih serius dari pihak berwenang. Koordinasi lintas sektor antara Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, serta pemerintah kelurahan/desa dianggap penting dalam menekan jumlah anjal.
Anggota dewan dari daerah pemilihan Cakranegara ini berharap agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar fenomena ini tidak terus berlarut dan menjadi masalah sosial yang lebih besar di kemudian hari. (fit)


