spot_img
Kamis, Februari 19, 2026
spot_img
BerandaBREAKING NEWSPameran Kolaboratif: "Without Blue" Suguhkan Luka Melalui Suasana

Pameran Kolaboratif: “Without Blue” Suguhkan Luka Melalui Suasana

Mataram (suarantb.com) – Dalam lukisan, warna umumnya menjadi bagian penting dari pelukis untuk mengungkap perasaan, keyakinan, atau maksud lainnya.

Dalam ragam warna, biru sering kali diasosiasikan sebagai warna kesedihan dan kelukaan. Pasalnya, warna ini kerap muncul di langit, laut, tubuh manusia selepas dihantam benda tumpul, dan banyak lagi.

Dalam bahasa Inggris, biru tak hanya dimaknai sebagai warna, tapi juga kata yang mewakilkan suatu perasaan. Ada istilah feeling blue yang diartikan sebagai merasakan sedih.

Biru memiliki makna ganda, disepakati sebagai suatu kata yang mewakili rupa juga rasa. Hal ini dijadikan pijakan oleh Lalu Wahyu Permana alias WHYPER saat membuat karya-karya yang selanjutnya dirangkum dalam pameran bertajuk “Without Blue”.

Namun, alih-alih menggunakan biru dalam karya-karyanya, Whyper justru menjadikan ekspresi tokoh dan suasana sebagai jalan untuk mengungkapkan perasaannya.

Dengan konsep menihilkan warna biru dalam karya-karyanya, Whyper hendak menunjukkan bahwa tak harus biru untuk menunjukkan pilu.

Tajuk ini hadir atas responsnya dalam menanggapi kesedihan yang tak putus-putus terjadi di luar diri, yaitu lingkungan sosial, negara, dunia, dan kesedihan yang selama ini tertampung kemudian mengental di dalam diri.

“Kalau yang spesial mungkin karena benar-benar keresahan semua karya-karya ini. Jadi dari namanya sendiri ‘without blue’, tapi warna ‘birunya’ itu sendiri saya ingin hadirkan dengan suasana sedih dari semua karakter-karakter yang ada di sini,” urainya.

Luka yang menyebabkan alienasi dan alienasi yang menyebabkan luka menjadi “blue” yang dipertaruhkan pada karya-karya Whyper dalam pameran ini.

Dengan hampir tanpa biru, Whyper justru menggambarkan lebih dari sekadar kesedihan dalam karya-karyanya; yang juga menampilkan luka-luka, kecacatan, dan perasaan terasing.

Bisa jadi itu adalah jenis kesedihan yang memadat pada dirinya; dia mencari cara agar emosi itu bisa terwakilkan, baik secara rasa juga rupa.

Ada 16 buah karya yang dipamerkan dalam pameran kali ini. Belasan karya itu dibuat Whyper dari tahun 2023 sampai 2025.

Dari belasan karya itu juga, Whyper mengangkat beragam tema; sosial, kondisi dunia, eksploitasi berikut dinamika manusia di dalamnya.

“Random sih. Banyak. Ini bisa masuk ke ranah feminis bisa juga. Terus ke-chaosan dunia segala macam, terus ini bidang industri kayak selebriti yang dieksploitasi,” urainya.

Pameran ini terselenggara berkat kolaborasi antara Raw Draw (penyelenggara pameran), Segara Space (penyedia lokasi), dan Whyper (pengkarya).

Founder Raw Draw, Tara Febriana Khairunnisa mengatakan, pameran ini merupakan agenda tahunan Raw Draw. Pameran ini mengajak perupa di Lombok untuk memamerkan karya-karyanya.

“Pada tahun ini kami berkolaborasi dengan Segara Space pemilik tempat. Jadi kami secara praktik tentu sebagaimana kolaborasi pada umumnya kami menyelenggarakan pameran di sini. Segara Space menyediakan tempat dan membantu penataan dan lain-lain, lalu Whyper sebagai pengkaryanya,” terang Tara.

Tara juga menjelaskan proses kurasi karya membutuhkan waktu tiga bulan dengan mempertimbangkan jumlahnya. “Jadi satu bulan sebelum pameran ini baru kami mengerjakan dan melihat-lihat karya Whyper dan mengkurasinya,” tuturnya.

Sementara itu, Meva selaku tim Segara Space menuturkan, pameran kolaboratif ini juga dalam rangka memperingati dua tahun Segara Space.

“Jadi kegiatan ini upayanya sama seperti apa yang Segara Space sering gaungkan. Kita mau menjadi media, menjadi wadah untuk teman-teman entah pekerja seni dan lain-lainnya komunitas apapun, kalau mau berkarya dan punya karya Segara Space adalah wadah untuk kalian bisa melakukan apapun di sini kita akan support,” tandasnya. (sib)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO