Mataram (Suara NTB) – Percepatan penurunan stunting di Kota Mataram, masih menjadi pekerjaan rumah. Dua wilayah yakni, Kecamatan Sandubaya dan Kecamatan Sekarbela, kasus anak bertubuh masih tinggi dibandingkan empat kecamatan lainnya di Kota Mataram.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Mataram bahwa secara akumulatif angka stunting mencapai 6,09 persen dari sebelumnya 7,6 persen. Jumlah kasus ini berdasarkan data akumulatif dari masing-masing kecamatan. Khusus Kecamatan Sekarbela dan Kecamatan Sandubaya berada posisi pertama dan kedua dengan jumlah kasus di atas 5 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan ditemui pada akhir pekan kemarin menyebutkan, data akumulatif stunting di Kota Mataram, mencapai 6,09 persen. Kasus anak bertubuh pendek mengalami penurunan signifikan dari sebelumnya 7,6 persen.
Penurunan kasus stunting tidak terlepas dari intervensi dan kolaborasi dengan lintas sektor,pemberian suplemen atau makanan tambahan serta bantuan dari organisasi wanita di Kota Mataram. “Kami juga banyak mendapatkan bantuan dari PKK, GOW, Dharma Wanita Persatuan untuk menekan kasus stunting,” terangnya.
Menurut Emirald, pekerjaan rumah adalah di Kecamatan Sandubaya dan Kecamatan Sekarbela. Angka stunting di dua kecamatan tersebut, di atas 5 persen. Ia tidak berani menyimpulkan tingginya kasus itu, dipicu karena topografi wilayah atau penyebab lainnya, karena perlu kajian mendalam melibatkan perguruan tinggi untuk mengevaluasi karakteristik wilayah dan lain sebagainya. “Kita perlu melakukan evaluasi dari sisi ilmiah, agar bisa menyimpulkan secara pasti penyebabnya. Karena empat kecamatan rata-rata 5 persen,” ujarnya.
Intervensi kasus stunting kata dia, perlu peran aktif kepala wilayah mulai dari camat, lurah, dan kepala lingkungan. Persoalan yang dihadapi harus segera ditindaklanjuti. Kecamatan Sandubaya dinilai cukup progresif menindaklanjuti persoalan yang ditemukan di lapangan.
Mantan Wakil Direktur RSUD Kota Mtaram berupaya mencari alternatif lain untuk mengurangi kasus stunting tersebut. Salah satunya mengevaluasi peran dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). SPPG juga berperan aktif menyasar stunting anak, ibu hami dan ibu menyusui. Pemberian makan bergizi gratis bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui menjadi senjata menekan kasus anak bertubuh pendek tersebut. “Saya akan mengeluarkan SHS kalau 10 persen dapur MBG memberikan makanan bergizi bagi bagi balita, ibu hamil dan ibu menyusui,” demikian kata dia. (cem)


