spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMPagelaran Peresean, Promosi Pariwisata dan Pelestarian Kesenian Masyarakat Lombok

Pagelaran Peresean, Promosi Pariwisata dan Pelestarian Kesenian Masyarakat Lombok

Mataram (Suara NTB) – Membangun citra pariwisata butuh proses panjang dan konsistensi. Festival harus rutin digelar untuk menarik minat wisatawan. Salah satu langkah yang dilakukan Dinas Pariwisata Kota Mataram adalah festival peresean. Gelaran kesenian masyarakat Lombok ini, digelar tiap bulan sebagai upaya mempromosikan pariwisata di Kota Mataram dan pelestarian kesenian masyarakat Suku Sasak.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Dr. Cahya Samudra ditemui di ruang kerjanya pada, Selasa (4/11/2025) menerangkan, peresean menjadi pagelaran rutin yang digelar setiap bulan. Kesenian masyarakat Suku Sasak ini digelar di Taman Wisata Loang Baloq, Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela menjadi ikon. Bentuk kolosium atau arena pertarungan terlihat walaupun peresean bisa digelar di lokasi lain.”Kegiatan ini rutin kita gelar setiap bulan,” terangnya.

Pagelaran peresean digelar tiap bulan, diharapkan wisatawan dan agen usaha perjalanan telah mengetahui jadwal kegiatan tersebut. Cahya memahami membangun branding atau citra pariwisata membutuhkan waktu dan konsistensi, sehingga pagelaran ini menjadi sajian rutin bagi wisatawan. “Jadi wisatawan yang datang ke Mataram bisa tahu jadwal rutin pagelaran peresean,” terangnya.

Taman Wisata Loang Baloq dipilih karena lokasinya strategis. Wisatawan tidak hanya menikmati sajian kesenian masyarakat Lombok, tetapi juga merasakan keindahan matahari terbenam. Mantan Camat Sekarbela ini menambahkan, tujuan utama pagelaran peresean adalah promosi pariwisata dan melestarikan kesenian tradisional Suku Sasak.

Pariwisata dan kesenian dinilai menjadi satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Selain itu, peresean menjadi kesenian beladiri yang unik. Pepadu (petarung,red) tidak pernah merasakan dendam usai bertarung dalam arena. “Jadi mereka berangkulan setelah bertarung. Apa yang disajikan tidak menimbulkan dendam melainkan persaudaraan,” jelasnya.

Ia menyadari membangun citra pariwisata tidak bisa jangka pendek. Artinya, butuh konsistensi dan waktu lama supaya pariwisata dan kesenian masyarakat dapat dikenal secara luas.

Masyarakat tidak bisa membandingkan antara Yogyakarta dengan Kota Mataram. Pariwisata, budaya, dan kesenian di Kota Gudeg tersebut, telah terbangun sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. “Jadi tidak bisa dibandingkan apel to apel antara Jogja dengan Mataram. Saya tahu Malioboro sejak masih kecil,” ujarnya.

Oleh karena itu, pagelaran budaya, kesenian masyarakat dan promosi pariwisata harus digelar secara rutin. Pelaku perjalanan wisata dan organisasi pariwisata diminta dukungan dan membantu Pemkot Mataram, mempromosikan destinasi wisata di ibu kota Provinsi NTB ini. (cem/*)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO