Bima (Suara NTB) – Sebuah jembatan baru di Desa Rade, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, diduga mengalami retak setelah diterjang banjir yang melanda wilayah itu pada Kamis (6/11). Padahal, jembatan penghubung antara Desa Rade–Bolo senilai Rp6,2 miliar tersebut baru saja rampung dibangun dan tinggal menunggu peresmian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek rekonstruksi jembatan yang dikerjakan sejak Februari 2025 ini memiliki masa pelaksanaan selama 280 hari kalender. Anggaran proyek berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bima dan bersumber dari pendapatan hibah pemerintah pusat.
Namun, setelah hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Madapangga selama dua hari berturut-turut, jembatan ini dilaporkan mengalami keretakan pada bagian penghubung jalan. Foto-foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi jalan di sisi jembatan yang retak, memunculkan kekhawatiran dan dugaan adanya kerusakan pada struktur utama.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Rade, Atfah, membantah kabar bahwa jembatan mengalami kerusakan struktural. Ia menegaskan bahwa yang mengalami retak adalah bagian jalan penghubung jembatan, bukan jembatan itu sendiri.
“Jadi gini, jembatan itu baru dibangun. Jembatannya baik-baik saja. Karena intensitas hujan yang tinggi, jalan yang menyambung dengan jembatan itu mengalami penurunan tanah. Bukan jembatan yang rusak,” kata Atfah saat dikonfirmasi, Jumat (7/11/2025).
Ia menambahkan, kondisi seperti itu wajar terjadi pada infrastruktur baru karena adanya penyesuaian tanah di sekitar konstruksi. Pemerintah desa bersama pihak pelaksana akan melakukan pemeliharaan untuk memperbaiki bagian yang retak tersebut.
“Itu biasa terjadi kalau jembatan baru dibangun. Jadi kami tegaskan bahwa tidak ada jembatan yang rusak. Ada salah informasi yang disebarkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Atfah memastikan bahwa aktivitas lalu lintas di atas jembatan tetap berjalan normal. Warga masih melintasi jembatan tersebut seperti biasa tanpa hambatan.
Sementara itu, Camat Madapangga, H. Sahrul, SH., MH., menyampaikan bahwa pemerintah daerah merespons cepat persoalan jembatan lintas Desa Bolo–Rade tersebut. Menurutnya, jembatan itu sebelumnya sudah terbawa banjir sekitar lima tahun lalu, dan baru beberapa saat rampung dibangun kembali.
Namun, pada banjir kedua di bulan November 2025, tanah timbunan di ujung kanan dan kiri jembatan mengalami penurunan sehingga aspal ikut rusak.
“Alhamdulillah siang ini Bapak Bupati, Wakil Bupati, Sekda Kabupaten Bima, PUPR, Jaksa, serta pihak pelaksana dan PPK turun langsung meninjau kerusakan jembatan dimaksud. Beliau memerintahkan agar segera diatasi, dan alat serta kebutuhan lainnya sudah dipersiapkan lebih awal oleh pihak pelaksana proyek,” jelasnya, kepada Suara NTB melalui pesan WhatsApp pada Jumat (7/11).
Meski demikian, sejumlah pihak di publik menyoroti kualitas proyek bernilai miliaran rupiah itu. Mereka menilai, retaknya jalan penghubung sebelum jembatan diresmikan seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan kontraktor pelaksana.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kecamatan Madapangga dalam dua hari terakhir memang berdampak cukup besar terhadap permukiman warga, lahan pertanian, hingga fasilitas umum seperti jalan dan jembatan. Banjir juga dilaporkan merendam ratusan rumah di sejumlah desa di wilayah tersebut.
Karena itu, publik berharap Pemerintah Kabupaten Bima segera memastikan keamanan jembatan sebelum diresmikan secara resmi. Infrastruktur senilai Rp6,2 miliar itu diharapkan mampu menjadi akses utama yang kuat dan tahan terhadap bencana banjir di kawasan Madapangga. (hir)



