spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBDayu Pidada, Guru Asal Mataram Berhasil Terbitkan Buku Belajar Membaca Kreatif

Dayu Pidada, Guru Asal Mataram Berhasil Terbitkan Buku Belajar Membaca Kreatif

PIJAR pendidikan terbit melalui tangan kreatif Ida Made Ayu Pidada, seorang guru asal Kota Mataram. Berkat keuletannya, ia berhasil menyusun buku berjudul “Langkah Baru Lebih Cepat Lancar Membaca”, pada Agustus 2025. Buku ini diharapkan dapat membantu para guru dan orang tua untuk melatih siswa dan anak membaca dengan sederhana.

Buku ini dirancang untuk siswa jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) sederajat. Buku ini memberikan pembelajaran mulai mengenal vocal, abjad, gabungan suku kata, latihan membaca suku kata tertutup, hingga membaca kalimat sederhana.

Dayu Pidada demikian sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pembeda bukunya dengan buku penulis sejenis terletak pada bahasa yang digunakan dalam penggabungan suku katanya. “Ini yang membedakan, Bahasa Sasak dan Bahasa Bali berpadu di sini,” ujarnya.
Perjalanan Panjang Menjadi Guru Berstatus Pegawai Negeri
Selepas menuntaskan kuliah D2 di Unram tahun 1991 pada Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, ia memutuskan untuk berkerja di toko swalayan. Keputusannya bekerja sebagai pelayan toko, alih-alih menjadi guru punya alasan tersendiri. “Saya tidak menyangka tantangan untuk menjadi guru sangat berat, akhirnya saya tidak diangkat (pegawai negeri) walaupun sudah ujian dinas,” ucapnya.

Tak putus asa, ia tetap melanjutkan impiannya sebagai guru dengan mengabdi di salah satu sekolah di Mataram. Namun, kesungguhannya itu tak berbuah manis. Dayu Pidada tak kunjung mendapat status sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
“Dari sana saya ingin melanjutkan lagi kuliah. Kalau saya tetap SPG (Sekolah Pendidikan Guru) atau D2 tidak diangkat, kapan saya jadi guru negeri? Akhirnya saya lanjutkan S2 saya di Muhammadiyah (Ummat),” ceritanya.

Dayu Pidada mengaku, selepas mendapat materi kuliah Jurnalistik di Ummat, semangat menulisnya semakin menguat. Meski demikian, selepas menamatkan S2, ia tak kunjung diangkat sebagai PNS. Sehingga garis hidup membawanya bekerja di Riset Biro Indonesia (RBI). “Dari sana belum juga diangkat, 15 tahun saya belum juga diangkat sebagai pegawai negeri,” terangnya.

Penantian panjang menjadi tenaga pendidik kemudian berakhir, ketika ia akhirnya diangkat sebagai guru berstatus pegawai negeri pada 2005. Ia ditempatkan menjadi guru di SD 45 Ampenan.

Awal Mula Menulis Buku
Dayu Pidada menceritakan bahwa menulis merupakan hobinya sejak kuliah D2 Jurusan Bahasa Indonesia di Unram pada 1989. Jurusan itu kemudian mendorong spiritnya untuk terus menulis. “Sebagai mahasiswa Bahasa Indonesia seharusnya memang punya wawasan tentang menulis,” tuturnya.

Baru pada 2020 saat pandemi Covid-19 melanda, ia secara serius menulis terkait metode pembelajaran bahasa untuk siswa, khususnya jenjang PAUD dan SD sederajat. Menurutnya, implikasi pandemi itu membuat sejumlah siswanya tak bisa membaca, karena terhalang waktu belajar di kelas.

“Dari hambatan itu saya menulis bentuk tulisan-tulisan kecil. Saya tidak menyangka akan berbentuk seperti buku. Hanya berbentuk tulisan biasa,” tuturnya.
Tulisan sederhana yang semulanya diperuntukkan untuk siswa-siswinya yang belum bisa membaca itu kemudian yang terkumpul hingga menjadi sebuah buku utuh. Ia berharap, melalui buku yang telah disusunnya, siswa dapat belajar membaca dengan metode paling sederhana dan mudah dipahami.

Dayu Pidada juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Anak Agung Sri Utari yang telah membantu menerbitkan bukunya. “Buku ini bisa dipublikasikan hingga menjadi sebuah buku yang ber-ISBN atas bimbingan Ibu Anak Agung Sri Utari dari Bali Post. Terima kasih Bu Agung atas segala bantuannya hingga buku ini bisa tersusun seperti ini, bisa dipublikasikan,” ujarnya. (sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO