Mataram (Suara NTB) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi di Gedung Layanan Perpustakaan di Jalan Pemuda Mataram, Rabu, 12 November 2025. Kegiatan bimtek yang diikuti peserta dari kalangan pegiat atau komunitas literasi se Pulau Lombok ini dibuka langsung Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB Dr. H. Ashari, S.H., M.H.
Bimtek yang digelar selama 2 hari (Rabu, 12 November dan Kamis, 13 November 2025) menghadirkan narasumber. Narasumber yang dihadirkan akademisi Universitas Mataram, Novita Maulida, S.Sos., M.Med.Kom., Guru Besar Universitas Islam Mataram Prof. Dr. Abdul Wahid, M.A., M.Pd., dan Pemimpin Redaksi Harian Suara NTB H. Agus Talino.

Didampingi Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB Jaka Wahyana, Ashari mengingatkan seluruh masyarakat, khususnya komunitas literasi harus bisa membedakan informasi yang baik dan benar.
Pihaknya juga memberikan apresiasi terhadap peran serta komunitas literasi dalam mencerdaskan anak bangsa. Termasuk mengikuti kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, meski berasal dari lokasi yang jauh dengan harapan mendapatkan informasi yang baik.
Ashari juga memaparkan dalam mengembangkan literasi atau minat baca di NTB tidak terlepas dari visi dan misi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Menurutnya pemahaman terhadap visi misi Presiden sangat penting untuk ditransformasikan ke masyarakat. Begitu juga dengan visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB dalam membangun masyarakat NTB. Untuk itu, ujarnya, keberadaan literasi maupun komunitas literasi sangat penting memberikan pemahaman di tengah masyarakat.
Banyak program prioritas pemerintah yang sekarang ini sedang berjalan, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat dan program lainnya.
Ditegaskannya, jika kebijakan pemerintah sekarang ini tidak ingin ada anak yang tidak sekolah. Menurutnya, semua anak di Indonesia harus menempuh pendidikan, termasuk hingga pendidikan tinggi. Bahkan tidak boleh ada anak yang ditolak untuk melanjutkan pendidikannya oleh institusi pendidikan.
Begitu juga pada program pemerintah mengenai transparansi dan antikorupsi (literasi hukum dan literasi agama) juga harus disebarluaskan kepada masyarakat. Selain melalui media, peran serta dari komunitas literasi dalam memberikan bahan bacaan kepada masyarakat sangat dibutuhkan. Untuk itu, pemerintah memberikan perhatian besar terhadap komunitas literasi yang memiliki inisiasi dan komitmen dalam mengembangkan literasi dan mencerdaskan masyarakat.
Bunda Literasi Serahkan Bantuan Buku
Bimtek Literasi Informasi pada hari pertama ditutup dengan dialog bersama Bunda Literasi NTB Hj. Sinta Agathia Iqbal. Pada kesempatan ini Bunda Literasi NTB didampingi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB H. Ashari menyerahkan bantuan buku pada dua perwakilan peserta bimtek.
Bunda Literasi NTB Hj. Sinta Agathia Iqbal mengakui, jika upaya memajukan literasi NTB masih belum maksimal. ‘’Saya tidak malu menyampaikan itu. Pekerjaan rumah kita masih sangat banyak. Banyak hal yang harus dilakukan terkait literasi, terutama literasi yang ada di pelosok-pelosok pada anak-anak yang masih tidak tertarik dengan literasi,’’ ungkapnya.
Meski demikian, istri Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal ini mengakui, komunitas literasi lebih banyak bergerak sendiri di grass root. Namun, apa yang dilakukan komunitas literasi ini tetap dilaporkan ke Bunda Literasi.
‘’Tapi percayalah apa yang dilakukan teman teman sampai di kita. Nantinya gerakan yang dilakukan komunitas literasi ini akan dicatat dan dipilih mana yang akan dilanjutkan ke depannya,’’ tambahnya.
Baginya, hal yang belum dituntaskan tahun 2025 ini akan diupayakan dilanjutkan pada tahun 2026 mendatang.
Pada bagian lain, Hj. SInta Agathia Iqbal juga meminta komunitas literasi membuktikan kinerjanya di lapangan. Setelah ada kinerja nanti akan mendapatkan perhatian untuk ditindaklanjuti menjadi lebih baik.
Istri Gubernur ini juga mengingatkan agar ketika komunitas literasi atau generasi muda ketika mengajukan bantuan dan belum terealisasi, bukan tidak ada perhatian dari pemerintah. “Tapi ayo kita buktikan jika apa yang sudah dilakukan ini tepat sasaran,” ajaknya. “Jika nanti hasilnya sudah ada, nanti kita berikan perhatian berlebih pada komunitas literasi,” tambahnya.
Diakuinya, peranan komunitas literasi dalam meningkatkan literasi masyarakat sangat besar. Meski pemerintah atau Bunda Literasi memiiliki anggota dalam memajukan literasi, hasilnya tidak optimal. Namun, adanya keterlibatan semua pihak, terutama komunitas literasi dirinya yakin persoalan literasi di masyarakat diharapkan bisa teratasi. (ham)



