spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURIAIH Pancor Gelar Dialog Publik

IAIH Pancor Gelar Dialog Publik

Selong (Suara NTB) – Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar Dialog Publik bertajuk “Islam, Kyai Hamzanwadi dan Identitas Sasak” di Rupatama I Kantor Bupati Lombok Timur, Sabtu (15/11/2025). Kegiatan ini secara tegas menyimpulkan bahwa identitas Sasak berakar kuat pada nilai-nilai keislaman, dengan menempatkan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh sebagai figur pemersatu utama.

Acara yang dihadiri oleh kalangan akademisi, sejarawan, pemerintah daerah, perwakilan mahasiswa (BEM) se-Lotim, dan berbagai organisasi kemasyarakatan (OKP) ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Bakesbang Pol Lombok Timur.

Kabid Pengkajian Masalah Strategis dan Penanganan Konflik, Agus Ilham Haliq, S.H., dalam sambutannya mengingatkan seluruh elemen masyarakat akan pentingnya menjaga persatuan bangsa.

“Jadilah pahlawan di bidang masing-masing. Tetap jaga persatuan, jangan terpecah belah, karena persatuan adalah kekuatan bangsa ini,” pesannya.

Maulana Syaikh sebagai Figur Pemersatu dan Pembaharu Holistik. Pada sesi dialog utama, Abdul Hadi, Ph.D. Cand., memaparkan bahwa Maulana Syaikh merupakan sosok yang tepat dijadikan figur pemimpin masyarakat Sasak, yang secara historis tidak mengenal satu pemimpin tunggal. Pemikiran ini diperkuat oleh pemateri kedua, Prof. Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum., yang menilai perjuangan Maulana Syaikh bersifat holistik.

“Beliau memperjuangkan agama, bangsa, dan negara melalui instrumen organisasi masyarakat,” tegas Prof. Khirjan.

Lebih lanjut, Prof. Khirjan mendorong agar kebanggaan terhadap Hamzanwadi tidak berhenti pada simbol semata. “Kita begitu membanggakan Hamzanwadi, namun pertanyaannya: apa yang sudah kita perbuat?” ujarnya. Ia meminta mahasiswa untuk aktif menulis dan menyebarkan pemikiran Maulana Syaikh agar kiprahnya dapat dikenal lebih luas.

Pemateri lainnya, Lalu Muhammad Ariadi, MA.HK., menutup sesinya dengan mengajak seluruh peserta untuk meneladani pesan mendasar Maulana Syaikh, yaitu untuk berislam dengan baik dan benar.

Ketua BEM IAIH Pancor, Saefullah, menekankan relevansi pemikiran Kiai Hamzanwadi sebagai seorang pembaharu yang berhasil memadukan ajaran Islam dengan budaya Sasak. “Hal ini membentuk masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran kebangsaan,” jelasnya.

Saefullah juga mengingatkan bahwa generasi muda hari ini sedang berhadapan dengan “perang melawan lunturnya moral, hilangnya karakter, dan melemahnya identitas.”

Wakil Rektor III IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., dalam penutupan acara mengajak peserta meneladani perjuangan dua Pahlawan Nasional asal NTB, Maulana Syaikh dan Sultan Muhammad Salahuddin. Keduanya dianggap sebagai pendorong utama penguatan identitas dan persatuan.

Dialog publik ini diharapkan dapat menjadi fondasi kokoh bagi penguatan pembangunan Lombok Timur, NTB, dan Indonesia secara keseluruhan. Fondasi tersebut dibangun melalui integrasi nilai perjuangan pahlawan, ajaran Islam yang mencerahkan, dan identitas budaya Sasak yang telah berakar dalam tradisi keislaman. (rus)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO