spot_img
Kamis, Januari 29, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMBanjir Rob di Ampenan Berdampak ke 500 KK

Banjir Rob di Ampenan Berdampak ke 500 KK

BANJIR rob yang dipicu gelombang pasang akibat cuaca ekstrem beberapa waktu lalu melanda dua lingkungan di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan. Diperkirakan sekitar 500 kepala keluarga (KK) terdampak banjir tersebut. Meski air laut membawa sampah dan masuk ke rumah warga, belum ada laporan kerusakan material yang signifikan.

Camat Ampenan, Muzakkir Walad, mengatakan dampak terberat dirasakan oleh warga yang tinggal di kawasan dekat bibir pantai. Ia menjelaskan bahwa lokasi permukiman yang terkena banjir merupakan tanah GG (tanah yang tidak boleh didirikan bangunan), sehingga kerusakan yang terjadi tidak dapat diganti rugi. “Mereka sudah lama diperingatkan untuk tidak membangun di sana,” ujarnya, Senin (17/11/2025).

Muzakkir menambahkan, peringatan serta perencanaan untuk penataan kawasan pesisir tersebut sudah dilakukan sejak 2016. Berdasarkan data kecamatan, sebanyak 364 KK di Lingkungan Bugis dan Pondok Perasi masuk kategori berisiko tinggi terhadap banjir rob.

Untuk merespons kondisi ini, Pemerintah Kota Mataram menyiapkan solusi relokasi jangka panjang bagi warga pesisir yang rentan terdampak rob dan abrasi. Pemkot telah membebaskan lahan seluas 2 hektare di kawasan Bintaro Jaya untuk pembangunan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) yang diprioritaskan bagi warga dengan kerusakan parah akibat bencana pesisir.

Selain Rusunawa, Pemkot juga menyiapkan Perumahan Nelayan di Ampenan Selatan sebagai alternatif tempat tinggal bagi warga yang terdampak banjir rob.
“Inisiasi penyediaan tempat tinggal ini sudah disiapkan sejak 2016, terintegrasi dengan data pendataan saat itu dan program mitigasi Kotaku (Kota Tanpa Kumuh),” jelas Muzakkir.

Meski belum ada kerusakan bangunan, banjir rob ini berdampak signifikan terhadap mata pencaharian warga, terutama nelayan. Banyak nelayan kesulitan melaut akibat kondisi gelombang tinggi. Sebagian memilih menambatkan perahu di kawasan Senggigi, Lombok Barat, yang lebih aman karena merupakan wilayah teluk dan perairannya lebih landai.

Muzakkir menyebutkan bahwa nelayan sebenarnya dapat menambatkan perahu di lokasi seperti Jangko atau Meninting yang lebih aman dari rob. Namun, jika ditambatkan di sana, nelayan justru tidak bisa turun melaut karena kondisi perairannya kurang mendukung.

“Kami mengimbau nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut dan selalu memperhatikan kondisi cuaca, sebab keselamatan jiwa lebih penting,” pungkasnya. (pan)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO