Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram saat ini tengah mengupayakan normalisasi di beberapa sungai, seperti Sungai Ancar dan Sungai Unus, bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I.
Namun, penanganan di wilayah hulu dinilai juga sangat diperlukan. Beberapa pekan lalu, pemerintah bahkan sempat meminta melakukan normalisasi sungai yang sudah mengalami pendangkalan dan memicu luapan saat curah hujan tinggi.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzaki, mengatakan normalisasi sungai membutuhkan waktu cukup lama karena panjang aliran sungai yang harus dikerjakan.
“Karena sungai ini panjang, tidak mungkin dilakukan dalam waktu sehari. Hanya saja, teman-teman teknis sedang menentukan titik mana yang perlu diintervensi jika akan dinormalisasi,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Menurut Muzaki, Kota Mataram sebagai wilayah hilir sangat bergantung pada kondisi daerah hulu. Karena itu, komunikasi dan koordinasi dengan wilayah hulu perlu ditingkatkan untuk menyelesaikan persoalan banjir secara menyeluruh. “Apakah perlu juga disegerakan normalisasi di hulu, itu harus dibicarakan dengan BWS,” katanya.
Ia menambahkan, hal yang paling penting adalah memastikan daya tampung sungai saat ini. “Apakah daya tampung masih normal atau memang harus segera dinormalisasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan proses masuknya alat berat untuk normalisasi ke sungai menjadi salah satu kendala, karena harus melewati pemukiman warga dengan akses terbatas. Kondisi tersebut, katanya, terjadi salah satunya di Lingkungan Karang Kemong, Kelurahan Cakranegara Barat.
Selain pendangkalan, Muzaki juga menyoroti menyempitnya ruang sungai akibat pembangunan permukiman di bantaran sungai. Ia menilai, persoalan luapan air bukan hanya soal sedimentasi, tetapi juga menyangkut ruang sungai di kedua sisi. “Dalam aturan, tidak boleh membangun tiga sampai lima meter dari garis sempadan sungai, meskipun tanah itu milik sendiri,” tegasnya.
Sebelumnya, Sungai Ancar dan Sungai Unus di Kota Mataram meluap pada Rabu (12/11/2025). Luapan tersebut mengakibatkan tiga lingkungan di Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, serta dua lingkungan di Kelurahan Abian Tubuh Baru, Kecamatan Sandubaya, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.
Pemerintah Kota Mataram diharapkan dapat mencari solusi permanen dalam penanganan banjir, mengingat bencana ini terjadi berulang setiap tahun. (pan)


