Kota Bima (Suara NTB) – Banjir susulan yang melanda Kelurahan Lampe, Kecamatan Rasanae Timur, Rabu (19/11/2025), kembali memicu kepanikan warga. Satu rumah milik warga RT 06/RW 02 dilaporkan ambruk setelah sebagian bangunannya tergerus arus deras.
Camat Rasanae Timur, Imam Ardi Susanto, membenarkan insiden tersebut. “Rumah tersebut milik Ibu Hendon, dihuni bersama dua putranya, Furkan (34) dan Firmansyah (30). Ketiganya menjadi korban banjir yang terjadi dua kali dalam satu hari,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (20/11/2025).
Imam menjelaskan, banjir susulan yang datang sekitar pukul 16.00 Wita itu merupakan yang terbesar setelah banjir pertama pada 8 November 2025 lalu. Arus air yang membawa material dari wilayah Kecamatan Wawo menghantam permukiman di bantaran sungai, hingga menyebabkan struktur rumah yang terdampak tergerus dan akhirnya ambruk.
Ia mengingatkan bahwa dalam banjir sebelumnya, warga sebenarnya sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Pada banjir tanggal 8 November, semua penghuni rumah tersebut sudah mengungsi karena khawatir kejadian seperti ini terulang,” jelasnya.
Sementara itu, penanganan darurat langsung dijalankan pemerintah. BPBD Kota Bima pada Rabu malam menyalurkan bantuan berupa logistik, kebutuhan dapur, sandang, dan pangan untuk memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi selama masa darurat. Bantuan ini menjadi langkah awal sebelum pemerintah menentukan intervensi lanjutan.
Di sisi lain, peristiwa banjir susulan ini kembali menguatkan aspirasi warga bantaran sungai terkait kebutuhan relokasi. Pendangkalan sungai ditambah intensitas hujan tinggi di wilayah hulu membuat permukiman setempat semakin rentan diterjang banjir kiriman.
“Terkait permintaan lain, warga bantaran sungai meminta untuk direlokasi. Kondisinya sekarang sudah mengkhawatirkan,” ujar Imam Ardi Susanto.
Pemerintah Kota Bima, lanjutnya, tengah mengkaji opsi relokasi sebagai solusi jangka panjang. Mengingat pola banjir kiriman dari wilayah Wawo yang berulang dan cenderung meningkat dampaknya dalam beberapa tahun terakhir, relokasi dinilai sebagai langkah realistis agar warga tidak terus hidup dalam ancaman setiap datangnya musim hujan. (hir)


