spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBRuslan Abdul Gani Paparkan Konsep Kepemimpinan Modern di Hadapan Peserta LKMM

Ruslan Abdul Gani Paparkan Konsep Kepemimpinan Modern di Hadapan Peserta LKMM

Mataram (Suara NTB) – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Provinsi NTB, H. Ruslan Abdul Ga ni, S.H., M.H., mewakili Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal sebagai pembicara dalam kegiatan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Politik (FHISIP) Universitas Mataram di Aula Yusuf Abubakar Unram, Sabtu, 15 November 2025.

Dalam paparannya, Ruslan menekankan pentingnya pemahaman kepemimpinan dalam mengelola organisasi maupun birokrasi, termasuk organisasi kemahasiswaan. Ia mengutip pandangan Joseph L. Massie dan John Douglas (1975) yang menyebut tujuh kegiatan pemimpin yang saling berkaitan dan membentuk fungsi kepemimpinan, yaitu mengawasi, membuat keputusan, memimpin dan supervisi, berkomunikasi, menetapkan sasaran, mengorganisir, serta merencanakan kebijakan.

“Pemimpin harus mampu menjalankan fungsi-fungsi itu secara selaras. Ini bukan hanya teori birokrasi, tetapi juga relevan bagi organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi,” ujar Ruslan.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan ideal harus berakar pada kearifan lokal. Kearifan lokal, menurutnya, merupakan pandangan hidup masyarakat yang diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas suatu daerah. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai seperti Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI merupakan bentuk transformasi kearifan lokal dalam kepemimpinan nasional.

Lebih jauh, Ruslan memaparkan lima nilai kebangsaan Pancasila yang wajib diadopsi pemimpin. Nilai pertama adalah religiusitas, yaitu membangun dasar nilai, sikap, dan perilaku yang memperteguh visi dan keyakinan organisasi. “Pemimpin harus menunjukkan rasa cinta kasih kepada para pemangku kepentingan,” katanya.

Nilai kedua adalah kekeluargaan, di mana setiap orang dipandang memiliki kedudukan yang sama dan setara. “Pemimpin yang adil menerapkan fair leadership dan tidak bias terhadap kepentingan tertentu,” imbuhnya.

Nilai ketiga, keselarasan, menekankan penghormatan terhadap kedudukan masing-masing individu, menempatkan sesuatu pada tempatnya, serta mengutamakan kepentingan umum. Nilai keempat adalah kerakyatan, yang menggambarkan relasi dinamis antara pemimpin dan pengikut. “Dalam konteks tertentu, pemimpin juga pengikut—dan sebaliknya,” ujar Ruslan.

Nilai kelima adalah keadilan, yang menurutnya bersifat dinamis. “Yang tadinya dianggap adil bisa dinilai tidak adil di waktu lain. Karena itu pemimpin harus rajin meninjau persepsi keadilan secara berkala.”

Pada bagian lain, Ruslan memaparkan konsep kepemimpinan modern yang menekankan fungsi manajerial kuat. Leadership, katanya, ialah proses mempengaruhi, memotivasi, dan mendorong orang lain untuk berkontribusi bagi efektivitas organisasi.

Ia juga menguraikan beberapa jenis kepemimpinan: demokratis, afiliatif, otokratis, hingga visioner. “Pemimpin visioner mampu menginspirasi timnya berpegang pada visi dan mendorong pencapaian tujuan besar.”

Dalam konteks birokrasi, Ruslan menjelaskan tiga model kepemimpinan Weberian: birokrasi, karismatik, dan tradisional. Selain itu, ia membandingkan dua pendekatan kepemimpinan birokrasi: transaksional dan transformasional. Kepemimpinan transaksional cenderung anti-perubahan, berorientasi jabatan, dan menghambat kreativitas, sedangkan kepemimpinan transformasional didasarkan pada visi organisasi, perubahan, pembelajaran, pemberdayaan, dan kerja sama.
“Pemimpin transformasional mengembangkan kreativitas pegawai dan menciptakan organisasi yang kondusif,” tegasnya.

Menanggapi perkembangan zaman, Ruslan menyoroti pentingnya kepemimpinan digital (digital leadership). Ia menyebut kepemimpinan digital sebagai proses perubahan sosial yang dimediasi teknologi informasi untuk mendorong percepatan transformasi organisasi.
“Pemimpin daerah digital harus mampu berinovasi dan berkolaborasi untuk membuat keputusan yang cepat dan tepat,” ujarnya.

Merujuk Kemenpan-RB, ia menyebut empat karakter kepemimpinan digital: kemampuan berkomunikasi melalui berbagai platform, kemampuan kolaborasi tanpa batas ruang dan waktu, kemampuan manajerial untuk mengawasi pekerjaan secara virtual, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

Ruslan menutup paparannya dengan pesan bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan. “Perubahan bergerak cepat. Pemimpin yang mampu beradaptasi, berintegritas, kreatif, dan memahami teknologi akan menjadi kunci sukses organisasi ke depan,” ujarnya. (ham)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO