Sumbawa Besar (suarantb.com) – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sumbawa mengusulkan penanganan terhadap Jembatan Kayumadu yang rusak akibat banjir yang terjadi di wilayah setempat tahun 2024 lalu ke Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
“Informasi dari Kemenhan sudah disediakan anggarannya untuk penanganan terhadap jembatan tersebut. Kami juga sudah bersurat secara resmi dengan harapan bisa segera diintervensi,” kata Kadis PU, Muhammad Sofyan, kepada Suara NTB, Selasa (24/11/2025).
Largo, sapaan akrabnya mengaku, penanganan terhadap jembatan Kayumadu tersebut menjadi atensi pihaknya karena menyangkut akses masyarakat. Sehingga pihaknya berharap agar Kemenhan bisa segera melakukan intervensi lebih lanjut.
“Kalau untuk jembatan tersebut rusak akibat dihantam banjir tahun 2024. Sehingga kami berharap jembatan ini bisa segera ditangani,” ujarnya.
Ia pun meyakinkan, hasil koordinasi terakhir dengan Kemenhan mereka sudah berkomitmen untuk mengerjakan jembatan tersebut. Apalagi tim dari Kemenhan juga sudah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan lebih lanjut termasuk masyarakat yang terdampak.
“Hasil komunikasi secara lisan, kemungkinan penanganan jembatan ini akan disetujui oleh Menhan karena banyak masyarakat yang terdampak akibat jembatan yang rusak tersebut,” jelasnya.
Jembatan tersebut nantinya akan dibangun menggunakan plat baja (jembatan belly) dan dianggap bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Menurutnya jembatan belly ini sifatnya jembatan sementara yang akan dibangun sembari menunggu anggarannya tersedia untuk penanganan permanen.
“Jadi, di lokasi itu akan dibangun jembatan belly menggunakan plat baja, meski sifatnya sementara tetapi sangat kuat dan bisa digunakan oleh masyarakat,” ucapnya.
Sebelumnya Kepada Desa Badas, Kecamatan Labuhan Badas, Usman berharap pemerintah bisa segera menangani jembatan yang sudah rusak sejak tiga tahun lalu tersebut, karena ada puluhan siswa SD, SMP, dan SMA yang harus berjalan cukup jauh untuk ke sekolah.
“Kalau untuk siswa SD mereka harus nyeberang dulu ke Dusun Kanar dengan cara memutar cukup jauh sekitar 5 kilometer termasuk SMP dan SMA sehingga diharapkan jembatan ini bisa segera dibangun, ” ujarnya.
Karena jalan yang memutar cukup jauh, tidak sedikit juga siswa khususnya SMP dan SMA nekat menyeberangi sungai di tengah kondisi air yang cukup deras. Hal tersebut terpaksa dilakukan, karena jika memutar maka waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk sampai di sekolah.
“Kalau musim penghujan tinggi airnya bisa mencapai 1 meter, sehingga kita khawatir juga jika ada siswa yang nekat menyeberang karena bisa saja terseret arus,” ucapnya.
Ia berharap kepada pemerintah untuk bisa mencari solusi jangka pendek terhadap kondisi tersebut. Salah satunya dengan membuat jembatan limpas yang tidak membutuhkan anggaran besar dan melakukan pengalihan arus sungai untuk sementara waktu.
“Minimal kita bisa dibuatkan jembatan limpas supaya akses masyarakat tidak lagi terganggu, karena kerusakan jembatan ini sudah cukup lama tetapi tidak kunjung ada penanganan, ” tukasnya. (ils)



