Giri Menang (Suara NTB) – Sebanyak 73 perguruan tinggi negeri dari total 84 anggota Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) menghadiri Kongres AFEBI XIII yang digelar di Senggigi, Kamis, 27 November 2025. Kongres tahun ini mengusung tema “Kampus Berdampak untuk Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan”.
Ketua AFEBI, Prof. Dr. Rahman Kadir, menjelaskan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting bagi fakultas ekonomi dan bisnis seluruh Indonesia untuk memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan nasional, khususnya sektor pariwisata.
Salah satu agenda utama kongres adalah pemilihan ketua umum baru AFEBI. AFEBI, lanjutnya, selama ini turut mendirikan LAEMBA, lembaga mandiri yang bertugas menjaga mutu proses pembelajaran di fakultas ekonomi dan bisnis di seluruh Indonesia. AFEBI juga menjadi platform kolaborasi riset dan peningkatan mutu antarperguruan tinggi.
Beberapa fakultas ekonomi ternama seperti UGM, UI, ITB, IPB, Unair, Unpad, dan Unhas telah dikenal secara internasional dan memiliki mahasiswa dari berbagai negara. Menurut Prof. Rahman, reputasi ini lahir karena adanya budaya saling menantang untuk meningkatkan kualitas serta kesempatan benchmarking antaranggota AFEBI.
Prof. Rahman menegaskan bahwa riset perguruan tinggi anggota AFEBI telah banyak dimanfaatkan dalam penyusunan blueprint pembangunan ekonomi, baik di tingkat nasional maupun daerah. Ia memberi contoh bagaimana riset-riset dari ITB dan UGM digunakan sebagai basis kebijakan.
Terkait sektor pariwisata, ia mengutip pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D dan Gubernur NTB, Dr. H. Lalu. Muhamad Iqbal yang menyoroti rendahnya angka kunjungan wisatawan ke Indonesia dibanding Vietnam salah satunya.
“Ini menjadi pertanyaan besar. Potensi kita luar biasa, tetapi kita masih tertinggal,” ujarnya.
Karena itu, AFEBI menilai perlunya pendekatan multidisiplin. Ia menyebut contoh ITB yang menggunakan perspektif neuroscience dan kolaborasi dengan fakultas kedokteran untuk memperkaya analisis ekonomi.
Di sesi diskusi, Prof. Rahman juga menyoroti pentingnya membangun citra Indonesia sebagai negara yang damai. Menurutnya, persepsi internasional yang sering menggambarkan Indonesia sebagai negara tidak aman harus diperbaiki.
“Kita harus mengubah narasi ini. Di luar sana, seringkali demo kecil beberapa orang pun diberitakan seolah-olah kacau balau. Tugas kita adalah membantu pemerintah mempromosikan Indonesia sebagai negara yang damai dan aman untuk dikunjungi,” tegasnya.
Prof. Rahman menegaskan, bahwa AFEBI akan terus terlibat aktif mendukung pengembangan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, sejalan dengan tema kongres tahun ini.
“Pariwisata kita memiliki potensi jauh lebih besar dibanding negara pesaing. Kita punya sumber daya alam, budaya, dan keramahtamahan. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya secara ilmiah, strategis, dan terukur,” pungkasnya. (bul)


