Lombok Timur (suarantb.com) – Ketersediaan air di Bendungan Pandanduri, Lombok Timur, berada pada kondisi terbaik memasuki musim hujan tahun 2025 ini. Kepala UPP Lombok III Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I, Ihsan, memastikan debit air melimpah dan distribusi irigasi berjalan normal tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah, tahun ini kondisinya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Debit air cukup tinggi, bahkan sebagian sampai terbuang karena melimpah,” ujar Ihsan.
Dengan kondisi air yang stabil, Ihsan menegaskan seluruh kebutuhan irigasi dapat dipenuhi dalam rangka mendukung program strategis Presiden Prabowo untuk peningkatan produktivitas tanaman pangan dalam rangka penguatan cadangan pangan.
“Ketersediaan air sudah normal. Bendungan ini sangat siap untuk memenuhi kebutuhan petani selatan pada musim tanam,” katanya.
Pola pengaturan air juga terjaga dengan baik. Penyaluran dilakukan sesuai permintaan masyarakat melalui petugas pengamat irigasi.
“Berapa kebutuhan yang diajukan, itu yang kami salurkan. Saat ini petani belum banyak membutuhkan karena baru sebatas penyemaian,” tambahnya.
Bendungan Pandanduri di Desa Suwangi, Kecamatan Sakra, Lombok Timur memiliki luas genangan mencapai 315,7 hektare dengan kapasitas tampungan sekitar 27 juta m³. Selain irigasi, bendungan ini memiliki fungsi tambahan sebagai pengendali banjir, pengembangan pariwisata, perikanan air tawar, dan potensi listrik mikrohidro.
Ihsan menambahkan, Bendungan Pandanduri memiliki fungsi utama untuk mengairi sekitar 5.180 hektare lahan pertanian. Layanan irigasi menjangkau hingga wilayah selatan, meski beberapa titik tidak terlalu bergantung pada suplai bendungan karena curah hujan lokal yang tinggi.
“Sekalipun ada lahan yang bukan wilayah layanan bendungan, ketika mereka mengalami kekeringan tetap meminta suplai air kepada kami,” jelas Ihsan.
Selain irigasi, penyaluran air baku juga berjalan normal dengan debit sekitar 45 liter per detik untuk melayani kebutuhan masyarakat sekitar wilayah jangkauan bendungan.
Namun, aktivitas masyarakat yang memasang jaring ikan (karang teramba) di area bendungan juga menjadi perhatian. Praktik ini berpotensi merusak kualitas air bendungan.
“Keramba ini bisa mempercepat sedimentasi (pendangkalan) dan membuat air tercemar, terutama dalam penggunaan pakan ikan. Makanya sebenarnya tidak diperbolehkan ada keramba di bendungan. Karena kalau kualitas bendungan rusak, biayanya tidak kecil untuk perawatannya,” demikian Ihsan mengingatkan. (bul)



