Taliwang (suarantb.com)-Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyatakan saat ini telah menunjuk sebanyak lima Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang akan dijadikan percontohan.
“Minggu lalu kelima Kopdes itu sudah kami tetapkan atas persetujuan desa dan pengurus koperasinya juga,” kata kepala Dinas Koperindag KSB, Suryaman, beberapa waktu lalu.
Adapun kelima Kopdes Merah Putih yang ditetapkan itu, Koperasi Merah Putih Desa Mataiyang di Kecamatan Brang Ene, Koperasi Desa Seremong di Kecamatan Taliwang, Koperasi Desa Ai Suning di Kecamatan Seteluk, Koperasi Desa Talonang di Kecamatan Sekongkang dan Koperasi Desa Goa di Kecamatan Jereweh.
Untuk persiapan sebagai percontohan, Suryaman mengatakan, pihaknya telah memfasilitasi kelima Kopdes Merah Putih itu dengan lembaga perbankan negara (himpunan bank negara atau Himbara). Tujuannya agar tiap-tiap Kopdes dapat mulai membuka akses pinjaman untuk kebutuhan permodalannya.
“Kopdes Mataiyang dan Talonang kami hubungkan dengan Bank BRI, Seremong dan Goa dengan Bank Mandiri dan kalau Kopdes Air Suning dengan Bank BNI. Dan sekalian kami minta bank-bank itu memberi pendampingan juga,” papar Suryaman.
Dari hasil pertemuan antara pengurus kelima Kopdes Merah Putih dengan Bank Himbara itu. Suryaman mengaku, pihak bank menyarankan untuk tidak terburu-buru mengakses kredit pinjaman untuk pembiayaan usaha yang disiapkannya. Bank lebih mengarahkan agar di tahap awal ini, tiap Kopdes Merah Putih yang akan menjadi percontohan itu memulai usahanya dengan terdaftar sebagai agen kemitraan perbankan.
“Menurut bank, Kopdes bisa membuka usaha sebagai mitra dulu, misalnya jadi agen BRILink atau agen bank lainnya. Dan itu diaetujui oleh semua pengurus koperasi,” ungkap Suryaman.
Berbekal kesepakatan itu, saat ini kelima Kopdes Merah Putih percontohan itu tengah disiapkan menjalankan usaha perdananya sebagai kemitraan perbankan. Masing-masing Kopdes telah diarahkan oleh bank mitranya untuk menyiapkan tempat layanannya. “Untuk aplikasi, branding dan kelengkapan peralatan kemitraan bank yang disediakan, koperasi hanya siapkan tempat,” katanya seraya menyatakan progres persiapan kelima Kopdes Merah Putih itu akan dievaluasi setiap pekan.
“Minggu depan kita akan rapat dengan pengurus koperasi, Bank Himbara pendamping. Akan kita evaluasi seperti apa progres persiapannya mereka sebagai percontohan,” sambung mantan Kabag Prokopim Setda KSB ini.
Sementara itu, Pemerintah Pusat resmi meluncurkan 1.166 Koperasi Desa Merah Putih yang ada di NTB. Peluncuran dilakukan secara serentak bersama dengan 80 ribu desa di Indonesia oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu arahan Pemerintah Pusat terkait bagaimana modal bisnis 1.166 Kopdes di NTB. “Kita menunggu arahan dari pusat nanti, modal bisnisnya seperti apa. Tetapi yang jelas sekarang sudah terbentuk yang 1.166 koperasi merah putih berbadan hukum di NTB,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Iqbal mengatakan, Kopdes membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produknya. Masyarakat pelaku UMKM bisa menjadi anggota Kopdes untuk menjajakan jualannya.
Pemprov NTB, lanjutnya menghadapi beberapa tantangan dalam pengembangan program pemerintah pusat ini, khususnya dalam identifikasi potensi lokal untuk dikembangkan dalam Kopdes.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTB, Ahmad Masyhuri mengatakan tiga desa menjadi mode dalam peluncuran Kopdes Merah Putih di NTB, di antaranya Desa Kekeri, Lombok Barat, Desa Bilelando, Lombok Tengah, dan Desa Kembang Kuning, Lombok Timur.
Dia menjelaskan, tahapan pembangunan Kopdes telah dirancang melalui peta jalan yang jelas. Sejak Februari hingga 30 Juni 2025, difokuskan pada pembentukan kelembagaan, termasuk sosialisasi hingga pengesahan badan hukum. Hingga akhir Juni, tercatat 1.166 Kopdes di NTB telah berbadan hukum. Tahap selanjutnya adalah pengisian aktivitas usaha dan operasionalisasi.
“Sekarang tinggal diisi dan dijalankan. Kita ditarget sampai akhir tahun sudah mengoperasikan semuanya. Waktunya cukup berat, hanya enam bulan,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan ini membeberkan, NTB memilih Desa Kekeri sebagai titik awal peluncuran karena dianggap paling siap secara struktur kelembagaan dan kesiapan warga. Kendati demikian, dirinya tidak menampik bahwa ada desa lain yang lebih siap dibanding Kekeri.
Dijadikannya Kekeri sebagai desa model, lanjut Masyhuri agar desa-desa lain tidak merasa tertinggal atau minder dalam mengikuti program serupa.
“Kita tidak ambil desa juara atau desa wisata unggulan seperti Kembang Kuning, supaya desa lain tidak mencari-cari alasan. Kekeri ini contoh realistis yang bisa ditiru,” jelasnya.
Setiap desa percontohan punya spesifikasi sektor unggulan. Kekeri difokuskan pada pertanian pinggiran kota, Bilelando pada sektor kelautan dan perikanan, dan Kembang Kuning sebagai desa wisata dan pertanian dataran tinggi. Ketiganya akan menjadi model Kopdes yang bisa direplikasi sesuai karakteristik desa lainnya di NTB.
Untuk mencegah Kopdes hanya menjadi papan nama tanpa aktivitas nyata, Pemprov NTB mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk OPD teknis, Pemdes, notaris, BUMDes, hingga BUMN dan pihak swasta. (bug/era)



