Pengentasan Kemiskinan, Ketahanan Pangan, dan Pariwisata Berkualitas, tiga agenda utama kepemimpinan Iqbal–Dinda dalam lima tahun ke depan. Tiga agenda prioritas atau triple agenda Gubernur NTB itu terpampang nyata dalam satu desa wisata, Jeruk Manis yang terletak di Kabupaten Lombok Timur.
Suasana sunyi menyelimuti perjalanan menyusuri Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, yang lokasinya bisa ditempuh selama satu setengah jam dari Kota Mataram, pada Sabtu siang, 29 November 2025. Di sepanjang jalan, mata dimanjakan dengan hamparan sawah yang luas, terasering yang rapi, sesekali bertemu penduduk lokal dan turis yang berjalan kaki. Tidak lupa suara kicauan burung dan rasa dingin yang menyelimuti saat mulai memasuki Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Air Terjun Jeruk Manis.
Satu yang menarik perhatian dari wisata alam milik desa ini, ada fakta bahwa menjadi desa wisata, tak melulu menjadikan penduduknya kaya raya. Di sudut desa yang lengkap dengan sawahnya, sekumpulan ibu-ibu paruh baya sedang asyik bercengkrama, lekat Bahasa Sasak khas Kotaraja-nya, sambil kedua tangan memilah-milih, mengumpulkan anakan padi untuk ditanam.
“Upahnya Rp50 ribu sehari,” kata salah satu dari mereka, Inaq Jatna sambil sedikit cekikikan. Keseharian ibu-ibu yang masuk kategori kemampuan ekonomi menengah ke bawah di Desa Jeruk Manis membantu menopang pangan, tidak hanya untuk perut mereka, tetapi membantu Provinsi Nusa Tenggara Barat terdaftar sebagai lumbung pangan nasional.
Tidak setiap hari ia bisa menjadi buruh tani, hanya saat musim tanam dan musim panen. Meski hanya Rp50 ribu per hari, yang penting dapur tetap mengepul tiap pagi dan malam hari.
Setiap tahunnya, desa wisata Jeruk Menis menyumbang berton-ton padi. Dengan luas lahan pesawahan mencapai 160,67 hektare, dari total lahan 256 hektare, lebih dari setengah lahan desa ini diselimuti oleh pesawahan. Petani dan buruh tani bekerja sama memastikan agar panen tetap optimal.
Jatna mengatakan, Desa Jeruk Manis biasanya panen dua kali setahun. Meski NTB sempat dilanda el-nino di tahun 2024 lalu, tidak terlalu mempengaruhi hasil panen petani.
Perempuan, pria, remaja, hingga paruh baya dengan semangatnya bekerja di lahan becek saat musim tanam. Panas-panasan memasuki musim panen. Hal itu bukan masalah, kata Jatna. Daripada hanya ngarit rumput, walau ternak kenyang, tapi tidak bisa menghasilkan cuan, secara langsung.
Ia mengaku, dirinya sudah menjadi buruh tani sejak memasuki usia 15 tahun. Di masa itu, Desa Jeruk Manis belum mendapat sorotan seperti sekarang. Bersama teman sebaya, sesama wanita, ia menjadi buruh saat tanam dan panen padi. Dengan siklus yang tidak pernah berubah, sejak lama desa ini rutin panen dua kali setahun, sesekali bisa juga sampai tiga kali.
“Kalau ada ini (musim tanam, panen, red), bisa kita beli beras. Sejak umur 15 tahun kita jadi buruh tani,” katanya.
Saat musim tanam, perempuan buruh tani di Desa Jeruk Manis bisa seminggu penuh berkutat di lahan becek untuk menanam bibit padi. Tidak peduli terik maupun hujan, meski kulit kaki mulai mengeras hingga menyebabkan retakan yang membuat jalan terasa tidak nyaman, mereka tetap semangat. Sekali lagi, yang penting dapur mengepul, perut full.
Begitu pun dengan musim panen, walau tidak menyebabkan kaki pecah, teriknya matahari tal jarang membuat pening. Namun dengan semangat yang sama, ibu-ibu buruh tani di Desa Jeruk Manis tak pernah menyerah.
“Banyak lahan orang, kalua kita tidak punya. Lahan ini yang punya orang Selak Aik,” terangnya.
Di tengah hamparan sawah, perempuan pahlawan dapur mengepul di Desa Jeruk Manis mengubur mimpinya mendapat pundi-pundi dari desanya yang terdaftar sebagai Desa Wisata. Tidak punya lahan, tidak punya uang, tidak bisa berkomunikasi, dan masih banyak “tidak” yang tidak bisa dihapus satu-satu agar dirinya bisa memaksimalkan potensi dengan dijadikannya Jeruk Manis sebagai Desa Wisata.
Keinginannya ada, hanya saja tekadnya belum bulat, ditambah lagi realita yang mendorong mereka lebih jauh. Tidak bisa membangun homestay, lahan sama uang saja tidak punya.
Jadi tour guide, lebih tidak mungkin. Bahasa Indonesia saja kadang masih lupa. Satu-satunya pilihan adalah menjadi “pahlawan pangan”, selain menjadi pahlawan dapur mengepul tentunya. Cara ini untuk memaksimalkan diri agar NTB tetap terdata sebagai daerah lumbung pangan nasional.

Di sesi-sesi tanya jawab bersama perempuan penopang pangan Desa Jeruk Manis, muncul warga negara Rusia, bersama dengan istrinya. Istrinya dengan senyum lebar memotret sejumlah ibu-ibu yang sedang menanam benih padi. Tidak lupa memfoto dirinya, senyum lebar dengan latar ibu-ibu yang sedang berjuang demi keluarga.
Mereka, katanya sedang jalan-jalan. Sudah dua hari di Tetebatu, Sabtu kemarin memilih Air Tejun Tibu Bunter sebagai objek wisata yang dikunjunginya.
Menunjukkan bukti ibu-ibu buruh tani di Desa Jeruk Manis, mereka hanya tertawa saat melihat pasangan turis asing itu. Tidak bisa berkomunikasi, apalagi berbincang. Hanya Gerakan tangan yang sesekali sebagai petunjuk apa yang ingin diucapkan.
“Banyak wisatawan, tapi kita tidak bisa bahasa Inggris. Banyak turis yang datang, apalagi ke Sarang Walet. Lebih banyak bule daripada lokal. Kita cuma lihat saja, karena enggak bisa ngomong,” ujarnya diselingi cekikikan.
Dengan kepemimpinan baru Iqbal-Dinda, perempuan buruh tani di Desa Jeruk Manis berharap bisa memberi pembaharuan, kemakmuran, dan perhatian kepada mereka, buruh tani. Saat mengetahui bahwa salah satu agenda prioritas Gubernur adalah ketahanan pangan, tertoreh senyuman dalam wajah mereka sembari berkata, “semoga pak Gubernur bisa memberikan kita pekerjaan tetap.”
Gubernur Iqbal mengatakan, ia menargetkan triple agenda bisa tercapai dalam lima tahun ke depan. Triple agenda ini semata-mata untuk mencapai target nol kemiskinan ekstrem di tahun 2029.
Dalam mencapai triple agenda itu, Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Iswandi mengatakan, terdapat 10 program unggulan yang akan dieksekusi dalam lima tahun ke depan, yaitu NTB Sehat dan Cerdas, Desa Berdaya, NTB Inklusif, NTB Agro Maritim, Pariwisata NTB Berkualitas, E Mania (Ekraf Mendunia), NTB Terampil dan Tangkas, NTB Lestari Berkelanjutan, NTB Good and Smart Governance dan NTB Connected.
Potret desa dan semangat perempuannya, contoh nyata tiga program prioritas yang ingin dicapai Iqbal-Dinda. Dalam satu rumpun penduduk, tercermin masyarakat yang masih terselimuti kemiskinan. Mereka ini lah yang membantu ketahanan pangan, termasuk mewujudkan pariwisata berkelas dunia dengan potensi desa yang luar biasa.
Sedikit berbincang dengan bule Rusia, Andreo di Desa Jeruk Manis, ia membeberkan sebelum ke Lombok, ia menetap selama sebulan di Bali. Dirasakan kontras yang nyata antara kedua provinsi gugusan Sunda Kecil ini. Lombok, khususnya Desa Jeruk Manis dinilai jauh lebih tenang.
“It’s nice, the waterfalls not that big with the ricefields around, I feel like the territory belong to the family, it quite well. (Bagus, air terjunnya tidak terlalu besar. Dengan hamparan sawahnya, aku merasa ini milik seorang keluarga, ini cukup bagus),” katanya. (Umaera)



