spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK BARATPerang Topat Warisan Leluhur Simbol Toleransi dari Lobar untuk Dunia, Disaksikan Ribuan...

Perang Topat Warisan Leluhur Simbol Toleransi dari Lobar untuk Dunia, Disaksikan Ribuan Wisatawan Lokal dan Asing

Giri Menang (suarantb.com) – Ajang atau event bernuansa religi dan budaya, Perang Topat digelar Pemkab Lombok Barat, Kamis (4/12/2025). Event budaya yang menjadi warisan leluhur warga Lingsar Lombok Barat ini sebagai wujud nyata simbol toleransi perdamaian dari Lingsar untuk Indonesia dan dunia.

Melalui ritual religi perang topat membuktikan perang tak saling membunuh. Malah menjadi ajang untuk menyambung tali silaturahmi dan mempererat persaudaraan warga dua suku dan agama di Lombok Barat.

Event yang masuk Kharisma Even Nusantara (KEN) ini pun menyedot ribuan pengunjung, tidak saja lokal tetapi wisatawan asing dari berbagai negara.

Gelaran Perang Topat selalu diselenggarakan berkenaan dengan Rarak Kembang Waru (gugurnya bunga pohon waru) pada purnama sasih (bulan) ke pituk (tujuh) pada kalender Sasak. Festival tahun ini diawali dengan Begawe Gubuk yang mempertemukan antara empat banjar umat Hindu dengan umat Islam sekitar pura dalam jamuan makan bersama.

Acara berlanjut dengan aneka pagelaran seni yang berlangsung sampai puncaknya. Perang Topat merupakan rangkaian pelaksanaan upacara pujawali yaitu upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.

Berbagai kegiatan digelar sebelum dan sesudah terlaksananya Perang Topat. Di antaranya gotong royong masyarakat yang dilaksanakan umat Hindu dan warga suku Sasak di Pelataran Pura dan Kemaliq Lingsar. Memasang Abah-abah atau memasang perlengkapan upacara dan Sabun Rah juga dilaksanakan umat Hindu dan umat Muslim Sasak.

Napak Tilas Negelingan Kerbau oleh umat Islam Sasak dan umat Hindu. Persembahyangan umat Hindu dan Perang Topat, Bebeteh/Ngelukar yang dilaksanakan umat Hindu dan umat Muslim-Sasak.

Puncaknya ritual Perang Topat pada Kamis (4/12/2025). Pada puncak Perang Topat ini dihadiri langsung, oleh Bupati Lobar H Lalu Ahmad Zaini, perwakilan Kemenparekraf, Forkopimda, Kadispar NTB, Para kepala OPD, Camat, Kades dan pelaku usaha pariwisata serta pihak terkait lainnya.

Bupati Lobar, H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) menerangkan, Perang Topat adalah sebuah tradisi leluhur sebagai simbol toleransi antar umat beragama. “Ini (even perang Topat) adalah keharmonisan antara saudara – saudara kita yang beragama Hindu dan beragama Islam di Lingsar yang terus turun-temurun dipelihara. Sehingga apa yang telah diwariskan oleh leluhur Kita patut kita jaga,”kata LAZ.

Yang paling penting, kata dia, adalah spirit dari perayaan Perang Topat, satu-satunya peperangan yang penuh kedamaian, adalah Perang Topat. Satu-satunya perang yang tidak ada korban secara fisik atau pertumpahan darah hanyalah Perang Topat. “Ini penting untuk kita lestarikan. Dan tugas kita sebagai generasi mendatang untuk menjaganya, karena memiliki pesan toleransi yang sangat tinggi,” terangnya.

Untuk itu, dalam rangka terus melestarikan budaya ini, ia pun berkomitmen mengemas event ini lebih besar lagi. Karena keunikan pesan di dalamnya dengan nilai-nilai toleransi yang akhir-akhir ini mulai luntur atau pudar. Sehingga pesan yang disampaikan melalui Perang Topat ini harus dilestarikan bersama-sama.

“Ke depan perayaan Perang Topat harus kita kemas menjadi lebih besar lagi,perlu nanti kita hadirkan tokoh-tokoh lintas agama lebih besar, berskala nasional. Kita ingin tunjukkan bahwa dari Lombok Barat kita kemas warisan leluhur toleransi ini menjadi sebuah (event) toleransi pada level yang lebih tinggi lagi,” ujarnya sembari mengajak semua pihak memelihara warisan leluhur sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang diakui secara nasional. (her)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO