Selong (Suara NTB) – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk Sasaran 3B, yang mencakup Ibu Hamil (Bumil), Ibu Menyusui (Busui), dan Balita Non-PAUD, masih menghadapi sejumlah tantangan berat dalam implementasinya di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur (Lotim). Tantangan tersebut terutama terkait sarana prasarana, cakupan sasaran, dan optimalisasi peran pendamping lapangan.
Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur bersama tim ahli dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (KemenPPPA/BKKBN) di Sembalun, Jumat (5/12).
Kepala DP3AKB Lotim, Dr. H. M. Hasbi Dantoso, mengungkapkan bahwa kebutuhan dapur dan cakupan sasaran masih menjadi kendala. “Dari kebutuhan ada tiga dapur yang dibutuhkan, satu sedang dalam proses. Dengan dua dapur ini memang baru tercover secara utuh di 6 desa,” jelas Hasbi di lokasi.
Ia menekankan target ambisius pemenuhan sasaran tambahan 3B pada 2026 yang harus dipenuhi secara menyeluruh, bukan sekadar persentase.
FGD juga menyoroti kinerja Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berjumlah lebih dari 3.100 orang di Lotim. Hasbi mengakui adanya kelemahan mendasar dalam operasional TPK, terutama terkait data primer keluarga. “Data ini yang sangat lemah. Perkawinan di bawah umur, misalnya, kita selalu dapat data sekunder. Kalau TPK kita berdayakan, dia bisa mengetahui dari 200 KK yang mereka dampingi dengan gampang,” ujarnya.
Selain masalah data, ketidakjelasan Standard Operational Procedure (SOP) bagi TPK juga menjadi penghambat. “Mohon maaf ada kelemahan, tidak ada SOP, tidak ada standar prosedur profesional apa yang harus dikerjakan,” tambah Hasbi.
Ir. Siti Fatonah, MPH, Penyuluh KB Ahli Utama Kementerian PPPA/BKKBN, yang hadir dalam kunjungan tersebut, menegaskan bahwa misi utama adalah menelaah efektivitas TPK dalam program MBG. Ia menekankan bahwa esensi program ini lebih dari sekadar penyaluran makanan.
“Yang terpenting adalah mengedukasi para keluarga agar terjadi perubahan perilaku dalam penyediaan makanan bergizi di rumah masing-masing. Karena program MBG hanya memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan kalori sehari,” papar Siti Fatonah.
Menanggapi kondisi stunting di Sembalun yang merupakan sentra penghasil sayur, Siti Fatonah menggarisbawahi pentingnya asupan protein hewani. “Pengaruh terbesar (stunting) sebenarnya dari protein hewani yang kurang,” tegasnya.
Data stunting di Lotim secara umum masih di atas rata-rata nasional. Untuk Sembalun, Hasbi memperkirakan angka stunting saat ini berada di kisaran 12% dari total balita.
Sebagai langkah solutif, DP3AKB Lotim mendorong percepatan pembangunan dapur MBG yang masih kurang dan penyusunan SOP yang jelas bagi TPK. Koordinasi vertikal dengan BKKBN Provinsi dan dinas terkait juga akan diperkuat untuk memperjelas tugas, kewajiban, dan akuntabilitas TPK, yang honornya bersumber dari pemerintah provinsi.(rus)

