Mataram (Suara NTB) – Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di NTB mulai memasuki tahap persiapan. Melalui kerja sama Bidang Pendidikan Khusus dan Bidang SMA, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB menyiapkan PJJ di SMAN 1 Sakra Timur dan SMAN 1 Sembalun sebagai proyek percontohan atau pilot project pertama.
Program sekolah daring ini menjadi langkah strategis untuk memperluas layanan pendidikan jarak jauh di daerah yang memiliki tantangan akses. Kedua sekolah tersebut kini menunggu verifikasi resmi dari tim Direktorat Pusat.
Jika lolos, PJJ di NTB akan diimplementasikan sebagai model awal sebelum diperluas ke wilayah lain. Program ini berada di bawah Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Layanan Khusus.
Kabid Pembinaan Pendidikan Khusus (PK) Dikbud NTB Hj Eva Sofia Sari menegaskan, PJJ di NTB memiliki sasaran berbeda dari model SMA Terbuka.
Program ini juga membuka ruang bagi peserta didik disabilitas untuk ikut serta tanpa membatasi kesempatan mereka mengikuti sekolah daring. “SMA Terbuka tetap berada di bawah kewenangan Bidang SMA,” ujar Eva beberapa waktu lalu.
Untuk menerapkan PJJ di SMAN 1 Sakra Timur dan SMAN 1 Sembalun, sekolah wajib memenuhi sejumlah persyaratan teknis. Salah satunya akses komunikasi yang stabil, terutama ketersediaan jaringan WiFi sebagai penunjang pembelajaran daring.
Selain itu, sekolah diwajibkan menjalin kemitraan eksternal agar siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga bisa mengembangkan keterampilan vokasi.
Daya tarik utama program PJJ di NTB adalah status ijazahnya. Lulusan PJJ memiliki ijazah yang setara dengan sekolah reguler. Artinya, siswa PJJ SMAN 1 Sembalun maupun SMAN 1 Sakra Timur tetap tercatat sebagai lulusan sekolah asal mereka, tanpa perbedaan kualitas dan pengakuan. “Ijazah PJJ tetap sama dan setara dengan jalur reguler,” tegas Eva.
Dengan konsep inklusif, fleksibel, dan berbasis teknologi, PJJ di NTB diharapkan menjadi model baru sekolah daring yang dapat diterapkan secara lebih luas di masa mendatang. (sib)


