Mataram (Suara NTB) – Mutu pendidikan Kota Mataram 2025 menjadi sorotan dalam Bincang Mutu Pendidikan yang digelar Dewan Pendidikan Kota Mataram (DPM), belum lama ini. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah kepala bidang Disdik Kota Mataram, para pengawas sekolah, hingga kepala sekolah dari berbagai jenjang. Forum ini membahas capaian, masalah, dan arah peningkatan kualitas pendidikan di Kota Mataram.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Mataram Prof Tajuddin menuturkan, mutu pendidikan Mataram 2025 mengalami peningkatan. Rapor pendidikan yang sebelumnya didominasi warna merah dan kuning, kini bergeser menjadi kuning dan hijau.
“Ada kenaikan, tapi belum menggembirakan. Kota Mataram adalah ibu kota provinsi dan menjadi acuan daerah lain,” ujarnya.
Namun, di tengah kenaikan mutu pendidikan Kota Mataram 2025 itu, DPM menemukan fakta mengejutkan, masih ada siswa SMP yang belum bisa membaca. Prof Tajuddin menyebut, kondisi ini sebagai “kesalahan berjamaah” yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan.
Mulai dari perguruan tinggi (PT) yang melahirkan calon guru, hingga proses input, pembelajaran, hingga output sekolah. “Di kampus saja banyak yang tidak bisa menulis dengan baik. Huruf besar,kecil tidak paham karena tidak diajarkan nulis halus,” tegasnya.
Menurut Prof Tajuddin, persoalan literasi bukan hanya di Kota Mataram. Secara nasional, literasi masih rendah, sekitar 75 persen. Namun, ia menyebut literasi di Kota Mataram sudah lebih baik, karena beberapa sekolah mulai melakukan terobosan nyata.
Salah satunya SMPN 4 Mataram yang berada di kawasan rawan konflik. Sekolah ini mengajarkan bahasa halus dan adat istiadat sebagai pendekatan literasi yang juga meredam potensi intoleransi.
Untuk menguatkan mutu pendidikan Kota Mataram 2025, Prof Tajuddin meminta Disdik Kota Mataram menyiapkan desain kebijakan yang menyeluruh dan seragam di semua sekolah. Ia mendorong program membaca sebelum KBM, kewajiban khatam satu buku setiap bulan, serta penguatan program literasi lainnya.
Dengan berbagai catatan tersebut, ia berharap mutu pendidikan Mataram benar-benar meningkat dan menjadi model bagi kabupaten/kota lain di NTB.
Sementara itu, Kepala Disdik Kota Mataram, Yusuf, beberapa waktu lalu menyampaikan faktor kenapa masih terdapat sejumlah siswa belum bisa membaca.
Menurutnya, pada masa pandemi Covid-19, terjadi perubahan signifikan pada proses pembelajaran. Dari yang awalnya dilakukan secara luring, berubah menjadi daring. Hal itu membuat ada proses yang hilang pada prosesi pembelajaran atau yang disebut “lose learning”.
“Ada terjadi ‘lose learning’ zamannya Covid. Misalnya anak-anak berada di kelas II (SD) dua tahun naik ke kelas III dan kelas IV, itu kan tidak bisa membaca,” terangnya.
Ia menyampaikan, untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdik telah membuat kebijakan untuk mendorong sekolah agar aktif menyelenggarakan kegiatan literasi. “Kemarin kita sudah buat surat edaran (SE). SE ini sudah lama sebenarnya. Literasi membaca,” tuturnya.
Kebijakan ini mendorong agar sekolah secara aktif mengajak siswa-siswinya membaca selama 5-10 menit sebelum masuk kelas. “Jadi 5-10 menit anak-anak harus membaca dan itu yang sekarang digalakkan oleh Kemendikdasme,” tandasnya. (sib)



