Giri Menang (Suara NTB) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Barat (Lobar) mengalami penurunan peringkat dari empat ke posisi lima. Penurunan peringkat ini bukan berarti akibat indikator komposit menurun, melainkan ada peningkatan kendati sedikit lambat. Hanya saja daerah lain pertumbuhan indikator kompositnya tinggi, sehingga berpengaruh pada peringat IPM Lobar.
Meski demikian menurut Wakil Bupati (Wabup) Lobar Hj. Nurul Adha, IPM Lobar dari sisi progres bukan turun. Penyebab peringkat IPM ini turun menurutnya masih pada persoalan lama, yakni rata-rata lama sekolah yang masih rendah. Indikator lama-lama sekokah ini sebenarnya sedikit meningkat.
“Sebenarnya meningkat, tapi kabupaten lain juga meningkatnya tinggi, sehingga kita urutannya turun,” jawabnya, Senin (8/12/2025).
Beberapa hal yang menjadi sorotan dan catatannya, bahwa OPD harus mencari data anak-anak yang tidak sekolah ada di mana saja. Contoh hasil temuannya di Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung, ia menemukan ada anak usia produktif perlu mendapatkan pendidikan. Namun usia 18 tahun tidak tamat Sakolah Dasar (SD).
“Apa yang dikerjakan? Di situ kan ada sekolah dekat rumahnya. Kenapa kok gurunya tidak nyari? Ini yang saya maksud. Bahwa ada tanggung jawab moril besar kita semua ini untuk mengejar. Cari siapa yang tidak sekolah,” ujarnya mengingatkan.
Ia meminta OPD, sekokah, desa dan level bawah harus menjemput anak-anak yang tidak sekolah. Jangan sampai hanya menunggu, sehingga rata-rata lama sekolah tidak naik-naik. “Tapi ternyata di lingkungan kita yang dekat-dekat tidak sekolah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sektor kesehatan yang melambat, karena beberapa penyebab. Seperti pernikahan dini, pemicunya adalah anak tidak sekolah.
“Jadi berantai, memutuskan tidak sekolah, karena pernikahan dini. Pernikahan dini terjadi karena putus sekolah. Ini saling kait mengait,” ujarnya.
Sedangkan persoalan stunting, menurut Wabup mengaku optimis bisa menurun. Untuk itulah pihaknya menyiapkan strategi menurunkan kemiskinan, termasuk di dalamnya bagaimana mengejar rata-rata lama sekolah meningkat, angka pernikahan usia anak ditekan. “Gerakan anti merarik kodek kita gerakkan kembali,” imbuhnya. (her)


