spot_img
Senin, Januari 26, 2026
spot_img
BerandaBUDAYA DAN HIBURANTeater Lho Hadirkan Lakon Borka, Adaptasi Cerpen "Belfegor" Karya Kiki Sulistyo

Teater Lho Hadirkan Lakon Borka, Adaptasi Cerpen “Belfegor” Karya Kiki Sulistyo

Memasuki usia ke-35, Teater Lho Indonesia menandai tonggak penting dalam perjalanan kreatifnya. Usia matang ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi panjang mengenai konsistensi, ketekunan, dan keberanian bereksperimen yang selama tiga setengah dekade telah menjadi karakter kelompok teater ini.

Pada peringatan usia emas tersebut, Teater Lho Indonesia mendapat kehormatan tampil dalam Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 di Taman Budaya Provinsi NTB. Festival ini akan berlangsung pada 10–12 Desember 2025, di mana Teater Lho tampil di hari pertama.

Pada kesempatan penting ini, Teater Lho Indonesia menghadirkan lakon “Borka”, sebuah adaptasi dari cerpen Belfegor karya Kiki Sulistyo. Meskipun bukan karya baru, Borka justru menggambarkan bagaimana sebuah karya dapat terus bertumbuh melalui pembacaan ulang, eksplorasi ulang, dan pemaknaan ulang.

Sutradara sekaligus penulis naskah, R. Eko Wahono, menyebut momentum ini sebagai ruang bertumbuh, bagi naskah, aktor, dan seluruh elemen estetis yang membentuk dunia Teater Lho Indonesia.

Cerpen Belfegor karya Kiki Sulistyo menjadi sumber utama dari lakon ini. Teks tersebut penuh metafora tentang kekuasaan, keserakahan, dan trauma perempuan dalam masyarakat patriarkal.
Dalam proses adaptasinya, Eko dan tim menggali lebih dalam makna simbolis “ruang bawah tanah”, apakah ia ruang fisik, ruang batin, atau ruang bawah sadar.

Bagi sebagian tim kreatif, ruang bawah tanah adalah metafora trauma dan kenangan kelam; bagi lainnya, ia adalah ruang batin manusia yang menyimpan hasrat dan ketakutan terdalam. Perdebatan konseptual tersebut justru melahirkan napas baru bagi Borka.

Lakon ini menempatkan dua tokoh perempuan, Sirin dan Nenek, pada posisi berlapis: korban dan sekaligus pewaris kekerasan. Adaptasi Eko memunculkan “bola cahaya” sebagai simbol baru Belfegor, iblis kekayaan yang menggoda manusia dan menciptakan lingkaran keserakahan tanpa ujung.

Melalui pementasan ini, Borka bekerja pada dua lapis: mitologis dan sosiologis. Ia berbicara tentang iblis, tetapi juga tentang kapitalisme, materialisme, dan manusia yang semakin kehilangan empati.

Adapun sejumlah aktor yang akan tampil pada pementasan Borka versi 2025 di antaranya, Sopiyan Sauri, seorang guru pesantren sebagai Paman. Yulianerny, pengajar sekolah sebagai Nenek, Bagus Maulana, Mahasiswa sebagai Borka, mahasiswa, dan Witari Ardini, pelajar sebagai Sirin.

Keberagaman ini membawa warna baru dalam memahami kekerasan, keserakahan, dan spiritualitas dalam lakon ini.

Di sektor artistik, Gde Agus Mega, akademisi etnomusikolog, menghadirkan bunyi perkusi ambience sebagai “suara bawah sadar” tokoh, dengan penembang oleh Sanggaita. Sementara itu, Akmal Sasak, penata artistik sekaligus penata cahaya, merancang ruang bawah tanah berbentuk tabung silinder limas segi enam, sekaligus menciptakan permainan cahaya yang menghidupkan simbol Belfegor.

Elemen paling menonjol dalam Borka adalah bola cahaya, simbol hasrat, pengetahuan, dan kehancuran. Cahaya putih yang membias pada tubuh Borka menciptakan efek visual metaforis tentang godaan kekuasaan.

Videografi yang disajikan oleh penata visual Kharisma Priasa menghadirkan “arus pikiran” Borka melalui gambar-gambar abstrak dan simbol yang berkelebat cepat. Teater pun menjelma menjadi sinema panggung—pengalaman imersif yang melampaui batas konvensional.

Secara sosial, Borka adalah cermin masyarakat modern yang dikuasai materialisme. Bola cahaya melambangkan kekayaan, teknologi, dan kemajuan yang justru menjerat manusia dalam keserakahan.

Tokoh-tokoh dalam lakon adalah representasi generasi yang terjebak antara tradisi dan modernitas. Eko menegaskan bahwa “ruang bawah tanah” adalah metafora sekaligus kenyataan sosial: tempat di mana trauma, keserakahan, dan rahasia disembunyikan.

Dalam mementaskan adaptasi dari cerpen “Belfegor” karya Kiki Sulistyo ini, Eko memperkenalkan sebuah pendekatan yang ia istilahkan sebagai “riset tubuh”.

Metode ini menempatkan tubuh aktor sebagai arsip, teks, dan instrumen utama dalam pencarian kebenaran puitik. Tubuh tidak sekadar medium ekspresi, tetapi gudang ingatan yang menyimpan pengalaman personal, sejarah psikologis, dan lapisan-lapisan emosi yang membentuk identitas seorang aktor.

“Di titik inilah estetika Borka menjadi unik, mengedepankan tubuh sebagai pusat produksi makna,” beber Eko.

Riset tubuh tidak bertujuan menciptakan gestur indah atau koreografi yang teratur. Ia mengajak para aktor mendengarkan tubuh mereka sendiri, memahami gerak yang muncul dari pengalaman terdalam.

Eko menekankan hal ini kepada para pemain: Bagus Maulana sebagai Borka, Witari Ardini sebagai Sirin, Sopiyan Sauri sebagai Paman, dan Yulianerny sebagai Nenek. Mereka diminta tidak sekadar menghafal teks, tetapi menemukan energi dari tubuh yang memori dan emosinya hidup.

“Tubuh kalian sudah tidak dikoordinir oleh otak, tapi oleh gagasan atau ide,” tutur Eko. Sebuah kalimat yang menandai pergeseran paradigma. Tubuh bukan lagi alat, melainkan subjek yang berpikir, merasa, dan memutuskan.

Melalui pendekatan tersebut, Borka tampil bukan sebagai pementasan yang menonjolkan teknik semata, melainkan sebuah proses pencarian bersama.

“Para aktor tidak hadir sebagai pelaku yang menghidupkan karakter di atas panggung, tetapi sebagai individu yang membuka arsip tubuh mereka, menghubungkannya dengan konteks sosial yang lebih luas, lalu menghadirkan kembali temuannya dalam bentuk yang puitik dan gelisah,” kata Eko.

Pementasan menjadi ruang perjumpaan antara tubuh, ingatan, dan sejarah yang tak selalu terucapkan. Pada akhirnya, perjalanan kreatif Eko dalam Borka 2025 menegaskan bahwa teater adalah ruang untuk menyelami kedalaman diri dan masyarakat. Ruang bawah tanah yang hendak ia tampilkan bukanlah ruang gelap yang menakutkan, melainkan ruang untuk memahami apa yang selama ini disembunyikan.

Di sanalah teater bekerja, menyalakan cahaya di tempat-tempat yang jarang disentuh, menghadirkan kembali suara-suara yang lama tenggelam, dan mengajak kita melihat dunia dengan kesadaran yang lebih jernih.

“Borka menjadi bukti bahwa teater masih memiliki daya menyentuh, menggugat, dan menghidupkan ulang pertanyaan-pertanyaan penting yang sering terlupakan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari,” pungkas Eko. (sib)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO