Bima (Suara NTB) – Lonjakan bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan intensif membuat layanan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Bima kembali berada di titik penuh. Kasus meningkat, mulai dari persalinan caesar hingga persalinan risiko tinggi yang memerlukan stabilisasi segera setelah bayi lahir.
Direktur RSUD Bima, drg. H. Ihsan, MPH, menjelaskan bahwa kapasitas ruang intensif untuk bayi telah terisi seluruhnya dalam beberapa hari terakhir. “Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah bayi yang membutuhkan pengawasan intensif meningkat signifikan. Kapasitas NICU kami sudah terpakai penuh,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis (11/12/2025).
Saat ini RSUD Bima memiliki 12 inkubator NICU dan 10 inkubator cadangan untuk mengantisipasi lonjakan pasien. Namun, jumlah tersebut tetap tidak mencukupi. Tercatat 32 bayi sedang menjalani perawatan intensif, tiga kali lipat dari kapasitas ideal, membuat tim medis harus bekerja ekstra untuk menjaga mutu pelayanan.
Kondisi penuh ini membuat RSUD Bima untuk sementara tidak dapat menerima tambahan pasien NICU hingga tersedia ruang perawatan yang aman. Ihsan menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah penting demi keselamatan. “Pembatasan ini kami lakukan untuk menjaga keselamatan, mutu, dan efektivitas pelayanan bagi seluruh pasien,” tegasnya.
Rumah sakit juga meminta puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya mempertimbangkan rujukan ke RS terdekat yang memiliki fasilitas NICU apabila kondisi RSUD Bima belum memungkinkan. Untuk mempermudah koordinasi, rumah sakit menyediakan akses informasi ketersediaan ruang secara berkelanjutan melalui jejaring komunikasi rujukan.
Meski demikian, bayi yang tetap datang ke RSUD Bima akan tetap mendapatkan penanganan awal. Tim medis akan melakukan evaluasi, memberikan stabilisasi sesuai prosedur, dan mendampingi keluarga dalam proses rujukan apabila perawatan intensif diperlukan. “Kami tetap melakukan asesmen dan stabilisasi. Jika bayi membutuhkan NICU, keluarga kami dampingi untuk proses rujukan,” jelas Ihsan.
Sementara itu, bayi yang tidak membutuhkan perawatan intensif akan diarahkan ke layanan dokter anak, poli rawat jalan, atau fasilitas kesehatan lain yang sesuai dengan kondisi klinis.
Lonjakan kebutuhan NICU bukan kali pertama terjadi. Pada bulan November lalu, RSUD Bima juga menghadapi kepadatan layanan di berbagai instalasi, mulai dari IGD hingga ruang rawat inap. Kali ini, tekanan datang dari sisi pelayanan neonatal yang sensitif dan membutuhkan peralatan serta tenaga khusus.
Pihak rumah sakit berharap masyarakat memahami kebijakan pembatasan ini sebagai upaya menjaga keselamatan bayi. “Kami berterima kasih atas perhatian dan kerja sama masyarakat serta fasilitas kesehatan,” kata Ihsan menutup keterangannya. (hir)


