Kota Bima (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima menghentikan layanan rutin pengangkutan sampah pada hari Minggu mulai Januari 2026. Kebijakan ini muncul setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Oi Mbo mencapai batas maksimal dan masuk kategori daerah dengan status darurat sampah.
Plt. Kepala DLH Kota Bima, Syahrial Nuryadin, menjelaskan bahwa kondisi TPA kini tidak mampu menampung volume sampah tambahan pada akhir pekan. “TPA Oi Mbo sudah penuh. Kapasitasnya tidak lagi memungkinkan menerima pembuangan sampah pada hari Minggu. Untuk itu, kami menghentikan sementara pengangkutan di hari tersebut mulai Januari 2026,” kata Syahrial, Rabu (10/12/2025).
Syahrial menegaskan, penghentian layanan bukan bentuk pengurangan tanggung jawab pemerintah, melainkan langkah darurat untuk mencegah kerusakan lebih parah pada zona penimbunan di TPA. Kebijakan ini juga merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI Nomor 2567 Tahun 2025 tentang wilayah dengan kedaruratan sampah.
Dengan kebijakan baru ini, DLH hanya mengoperasikan armada pengangkut sampah hari Senin hingga Sabtu. Pemerintah berharap masyarakat memahami situasi dan mulai beradaptasi dengan pola pengelolaan sampah yang lebih mandiri.
DLH juga menyampaikan imbauan agar warga tidak membuang sampah sembarangan selama akhir pekan. “Kami meminta masyarakat menampung sampah sementara secara aman dan higienis pada hari Minggu. Tolong jangan ada yang membuang ke sungai, jalan, ruang terbuka, atau fasilitas umum,” ujar Syahrial.
Selain penampungan sementara, DLH mendorong warga melakukan pemilahan sejak dari rumah. Sampah organik dianjurkan untuk diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah. Pengurangan penggunaan bahan sekali pakai juga menjadi fokus kampanye DLH.
“Kondisi ini tidak bisa kita hadapi hanya dengan mengandalkan pemerintah. Butuh gotong royong seluruh masyarakat. Kalau pemilahan jalan, pengurangan sampah berjalan, tekanan pada TPA bisa berkurang,” tambah Syahrial.
Syahrial berharap warga Kota Bima dapat menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum untuk memperbaiki kebiasaan pengelolaan sampah. “Ini bukan hanya tentang sampah, tapi tentang bagaimana kita menjaga kota tetap bersih dan layak dihuni.”
Dengan keterbatasan TPA Oi Mbo, DLH menilai partisipasi publik menjadi kunci menjaga kebersihan Kota Bima. Pemerintah optimis kolaborasi semua pihak dapat mengurangi dampak darurat sampah sambil menyiapkan solusi jangka panjang. (hir)


