spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURSyahbandar Kayangan Sebut Tetap Evaluasi Kapal Guna Keselamatan Penyeberangan

Syahbandar Kayangan Sebut Tetap Evaluasi Kapal Guna Keselamatan Penyeberangan

Selong (Suara NTB) – Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Labuhan Lombok atau Syahbandar Kayangan, La Ode Wilo, menegaskan, pihaknya tetap mengevaluasi kapal guna memastikan keselamatan penyeberangan lintas Kayangan-Poto Tano.

Dia mengungkapkan sejumlah persoalan terkait operasional dan keselamatan kapal penyeberangan di wilayah kerjanya. Menurutnya, usia kapal bukanlah masalah utama, melainkan bagaimana pola pikir dan konsistensi dalam pemeliharaan kapal tersebut.

“Pelaksanaan pemeliharaan itu ada buktinya. Namun, kami tetap turun untuk memeriksa pelaksanaannya. Yang diinformasikan itu ada kapal tua dan muda, itu bukan persoalan. Tergantung bagaimana mindset pemeliharaannya,” jelas La Ode Wilo.

Meski menyatakan telah ada bukti pemeliharaan, Syahbandar mengakui bahwa keterlambatan dan insiden teknis masih kerap terjadi. Ia menyinggung operasi kapal-kapal bekas yang tingkat kelayakannya dipertanyakan.

Sebagai contoh konkret, disebutkan kapal Liberty 1 yang mengalami mogok beberapa kali, padahal sebelumnya telah diperiksa. Menanggapi insiden berulang ini, pihak Syahbandar telah mengambil langkah tegas.

“Kami telah mengajukan surat ke perusahaan untuk diadakan evaluasi ulang dan diperiksa kembali secara tersendiri. Rencananya, surat yang kami ajukan kemarin akan dievaluasi oleh BKI (Biro Klasifikasi Indonesia) dan Kementerian Perhubungan,” paparnya.

La Ode Wilo menganalogikan persoalan ini seperti mobil di jalan yang bisa mengalami ban kempes atau masalah mesin tak terduga di tengah perjalanan. Hal-hal teknis di luar perencanaan, seperti kebocoran atau bahan bakar yang terkontaminasi air, dapat menyebabkan kapal mogok.

Selain masalah teknis, ia juga menyoroti aspek kebersihan kapal yang menurutnya menjadi tanggung jawab bersama, termasuk masyarakat pengguna.

Di sisi lain, Syahbandar menegaskan pihaknya memiliki kewenangan dan profesional untuk menyatakan layak atau tidaknya sebuah kapal. Evaluasi secara menyeluruh terus dilakukan, mengingat tingginya intensitas operasi.

“Dihitung, kapal bisa 40 trip dalam satu hari, menyeberangkan sekitar 800 kendaraan. Dengan asumsi satu kapal memuat 20 kendaraan, operasi berjalan 24 jam,” jelasnya, menggambarkan beban dan vitalnya layanan penyeberangan ini.

Dengan temuan dan langkah yang telah diambil, pihak Syahbandar Kayangan berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan guna memastikan keselamatan dan keandalan transportasi laut bagi masyarakat.

Sementara itu, Listyono Dwi Tutuko selaku Manajer Cabang PT Dharma Lautan Utama Kayangan menjelaskan, kapal-kapalnya sebelum dan sesudah berlayar itu selalu dilakukan pemeriksaan secara rutin.

Dalam dunia pelayaran, anggapan bahwa kapal tua otomatis tidak layak laut terbantahkan oleh praktik perawatan yang ketat. Faktanya, usia kapal tidak berpengaruh secara teknis selama melalui serangkaian proses peremajaan dan inspeksi rutin yang diatur oleh standar nasional.

“Kapal yang rutin docking dan dilakukan peremajaan, termasuk penggantian spare part mesin utama, akan tetap prima. Penentuannya berdasarkan jam kerja mesin, bukan semata usia kalender,” jelas seorang sumber ahli di bidang perawatan kapal.

Selain mesin, tubuh kapal (hull) juga mendapat perhatian khusus. Kekuatan konstruksi kapal dinilai berdasarkan ketebalan pelat (flat) lambungnya, yang pengukurannya mengikuti standar dan penentuan dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

“BKI yang menentukan kelayakan. Standar untuk kapal kayu atau Fiberglass (Fibre Glass Reinforced Plastic/FRP) juga mengacu pada BKI. Pelat yang sudah tipis atau rusak biasa diganti. Inspeksi rutin ini dilakukan setidaknya sekali setahun saat docking,” tambahnya.

Perawatan tidak berhenti di galangan kapal. Saat beroperasi, kapal menjalani rawat periodik berdasarkan jam operasi, seperti setiap 100, 200, atau 1000 jam. Setiap kali berlayar, kondisi kapal terus dipantau.

“Pemantauan dilakukan secara real-time. Segala indikasi teknis yang muncul di kapal dilaporkan dan dianalisis. Bahkan, sebelum berangkat dari pelabuhan, dilakukan pemeriksaan akhir (pre-departure check) untuk memastikan kesiapan semua sistem,” paparnya.

Sistem perawatan yang berlapis ini—mulai dari inspeksi tahunan, perawatan berkala berdasarkan jam operasi, pemantauan real-time, hingga pemeriksaan pra-berangkat—menjadi kunci utama menjamin keselamatan dan keandalan kapal, terlepas dari tahun pembuatannya. Praktik ini menegaskan bahwa dalam dunia pelayaran yang modern, kedisiplinan dalam perawatan jauh lebih krusial daripada sekadar angka tahun pada lambung kapal. (rus)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO