spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaEKONOMIEkonomi NTB Diproyeksikan Melaju Kencang pada 2026

Ekonomi NTB Diproyeksikan Melaju Kencang pada 2026

Mataram (suarantb.com) – Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) lebih akseleratif dan melaju kencang pada tahun 2026 mendatang. Meskipun tantangannya juga tidak sederhana.

Optimisme ini juga disampaikan Bank Indonesia pada saat diselenggarakannya Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), akhir bulan November 2025.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K Pamungkas megemukakan, perekonomian Provinsi NTB menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang semakin solid sepanjang 2025 dan diproyeksikan akan tumbuh lebih tinggi pada tahun 2026.

Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah ini akan terakselerasi pada kisaran 6,3 hingga 7,1 persen pada 2026, seiring menguatnya konsumsi rumah tangga dan akselerasi ekspor barang dan jasa.

Ekonomi NTB pada triwulan III 2025 tercatat tumbuh 2,82 persen, setelah mengalami kontraksi pada tiga triwulan sebelumnya. Capaian ini kata Hario, mencerminkan ketahanan ekonomi daerah yang mulai pulih, ditopang oleh kinerja konsumsi dan investasi yang tetap tumbuh kuat.

“Pemulihan ekonomi NTB terus berlanjut, terutama didorong oleh akselerasi konsumsi masyarakat dan investasi,” ujarnya.

Dari sisi sektoral, penguatan ekonomi NTB juga didorong oleh akselerasi industri pengolahan, seiring dimulainya komersialisasi emas granula. Selain itu, kinerja positif sektor perdagangan dan pertanian turut mendorong pertumbuhan ekonomi nontambang yang tercatat melesat hingga 7,86 persen.

Ketangguhan ekonomi NTB sepanjang 2025 juga ditopang oleh stabilitas sistem keuangan daerah yang tetap solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan tahunan yang mencapai 26,56 persen, dengan kualitas kredit yang terjaga baik dan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap di bawah 2 persen.

Dari sisi harga, tekanan inflasi NTB sepanjang 2025 terpantau terkendali. Hingga Oktober 2025, inflasi tahunan Provinsi NTB tercatat sebesar 2,96 persen, masih berada dalam rentang sasaran nasional. Pencapaian ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah secara konsisten memperkuat koordinasi melalui High Level Meeting, rapat teknis TPID, Gerakan Pangan Murah, peningkatan kapabilitas pengendalian inflasi, serta penguatan produktivitas pangan melalui pengembangan dan perluasan tanam bibit unggul.

Memasuki 2026, lanjut Hario, BI NTB memandang prospek ekonomi daerah tetap positif. Optimisme tersebut didukung oleh berlanjutnya relaksasi ekspor konsentrat, perbaikan operasional smelter, serta konsumsi rumah tangga yang diperkirakan tetap tumbuh stabil. Dari sisi inflasi, laju inflasi NTB pada 2026 diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran target 2,5±1 persen, khususnya dengan penguatan pengendalian komoditas pangan bergejolak.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi ke depan, Bank Indonesia merumuskan lima arah kebijakan utama pada 2026, yakni menjaga stabilitas ekonomi daerah, mendorong transformasi sektor riil dan sektor padat karya, mempercepat dan mengoptimalkan belanja daerah, menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan, serta mengadopsi teknologi digital di seluruh aspek ekonomi dan keuangan.

Bank Indonesia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat pada 2026, guna menghadapi dinamika global sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi daerah sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. (bul)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO