spot_img
Kamis, Februari 19, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWAMenanam Asa, Menjaga Alam Cara Bupati Tangani Hutan Kritis di Sumbawa

Menanam Asa, Menjaga Alam Cara Bupati Tangani Hutan Kritis di Sumbawa

Sumbawa Besar (suarantb.com) – Kerusakan hutan di Sumbawa akibat alih fungsi lahan untuk pertanian terus terjadi setiap tahun. Data hutan sangat kritis dan kritis mencapai 51.434 hektare tersebar di 91 desa. Lahan potensial kritis seluas 131.000 hektare tersebar di 95 desa dan hutan non-kritis 41.000 hektare.

Kerusakan alam ini menjadi momok menakutkan dan harus menjadi atensi pemerintah. Musibah banjir dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah harus menjadi “peringatan” agar kerusakan yang terjadi saat ini bisa diminimalisir dengan menanam kembali hutan kritis.

Suara NTB berkesempatan ikut dalam program menanam pohon yang berlokasi di Bendungan Beringin Sila, Kecamatan Utan, pada Selasa (16/12/2025). Bendungan raksasa yang dibangun menggunakan APBN senilai Rp1,8 triliun tersebut saat ini kondisi hutannya semakin kritis akibat alih fungsi lahan yang dikhawatirkan berdampak pada sedimentasi.

Perjalanan dari Sumbawa ke lokasi penanaman cukup melelahkan. Jalan licin akibat hutan dan cukup terjal menjadi tantangan untuk mencapai lokasi yang berjarak sekitar 5,7 kilometer dari bendungan raksasa tersebut. Rasa lelah menjadi penyemangat untuk kembali menghijaukan hutan yang sudah beralih fungsi untuk perkebunan jagung.

Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot melalui program Sumbawa hijau lestari menjadi momentum untuk kembali “menanam asa” dan menjaga alam demi alam Sumbawa yang lebih baik. Penanaman pohon yang dilakukan secara serentak di tiga titik tersebut menjadi ikhtiar pemerintah untuk menjaga hutan Sumbawa di tengah kondisi yang semakin kritis.

“Lahan yang kita tanami berbagai jenis pohon merupakan lahan yang gundul dan kritis dengan tanaman yang memiliki ekonomis tinggi. Selain menjaga alam, masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat dari tanaman tersebut,” ujarnya.

Penanaman pohon di lokasi kritis lanjut Bupati Jarot dilakukan pemerintah untuk menekan kerusakan sekaligus investasi alam jangka panjang. Ia pun berkomitmen penanaman pohon di lokasi kritis diharapkan bisa menjadi role model bagi daerah lainnya untuk lebih intens menjaga hutan.

“Sumbawa hijau lestari menjadi komitmen kami dalam menjaga hutan. Jika kita biarkan rusak maka tidak ada lagi kehidupan karena akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Selain Beringin Sila, penanaman juga dilakukan di arena pacuan kuda Desa Moyo, Kecamatan Moyo Hilir seluas 3 hektare. Di lokasi ini nantinya akan ditanami 500 bibit jambu kristal dan mangga yang memiliki nilai ekonomis dan bisa dipanen oleh masyarakat.

“Sengaja kita tanam jambu kristal dan mangga agar masyarakat di sekitar lokasi bisa menjaga sekaligus memanfatkan hasil perkebunan yang mereka rawat tersebut,” ujarnya.

Sedangkan di lokasi tiga berada di Kawasan Bara Batu, Dusun Kapas Sari, Kecamatan Moyo Hilir. Di lokasi dengan luas lahan 30 hektare tersebut nantinya akan ditanami 12.000 bibit sengon karena berada di pinggir gunung.

“Di kedua lokasi ini akan melibatkan seluruh karyawan OPD, Polri, TNI, dan masyarakat Moyo Hilir. Kami berharap agar masyarakat setempat bisa merawat dan menjaga tanaman tersebut,” tambahnya.

Program ini merupakan komitmen nyata pemerintah dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup sekaligus menjawab tantangan kerusakan hutan dan degradasi lahan. Gerakan penanaman pohon serentak ini menjadi langkah konkret untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, pengendali tata air, serta pelindung ekosistem alam.

“Kami menegaskan pelestarian lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat demi keberlanjutan kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang,” timpalnya.

Gerakan penanaman pohon serentak lanjut Bupati Jarot tidak dimaknai sebagai kegiatan seremonial semata. Namun, sebagai awal dari gerakan berkelanjutan dalam membangun budaya cinta lingkungan di tengah masyarakat. Menanam pohon berarti menanam harapan, menjaga kehidupan, serta mewariskan alam yang lebih baik bagi generasi mendatang.

“Masa depan kita ditentukan dari sekarang, jika hutan rusak maka bencana akan datang. Tentu nilai yang dikeluarkan untuk penanganan bencana sangat besar sehingga mencegah lebih baik daripada menangani,” tukasnya.

Siapkan Skema Perhutanan Sosial bagi Masyarakat

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan skema bagi 31 masyarakat yang menggarap lahan di kawasan Bendungan Beringin Sila. Hal itu dilakukan pemerintah agar masyarakat yang terlanjur membuka lahan di lokasi tersebut bisa mengganti jagung dengan tanaman keras.

“Kita ke depan akan mengubah status lahan ini menjadi hutan sosial dan akan kita legalkan bagi 31 masyarakat yang sudah menggarap lahan itu tetapi tidak boleh gundul harus hijau dan tidak boleh tanam jagung,” tegas Bupati Haji Jarot.

Pemerintah pun akan memberikan kompensasi kepada petani yang sudah melakukan pembersihan dan penyemprotan lahan untuk diganti biaya yang sudah dikeluarkan. Namun pemerintah menegaskan tidak boleh menanam jagung lagi di lokasi tersebut.

“Kami juga akan buat pos penjagaan dan garis koordinasinya akan langsung berada di bawah komando satgas pengamanan hutan. Termasuk kita juga akan membuat pagar pengamanan,” Jelasnya.

Pemerintah juga berkomitmen akan mengawal penanaman ini hingga tumbuh dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Sehingga dalam lima tahun ke depan akan muncul mata air yang bisa mensejahterakan masyarakat sekitar.

Pemerintah juga menyiapkan hadiah yang cukup menarik, jika pohon ini tumbuh dengan baik maka petani akan mendapatkan satu ekor sapi per orang. Hal ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjaga alam dan hutan Sumbawa dari kerusakan.

“Kami sudah menyiapkan hadiah yang menarik bagi masyarakat yang sukses menanam pohon di hutan yang gundul dan kritis. Kami juga menyiapkan “hotel gratis” bagi yang melanggar tinggal pilih saja mau yang mana,” tukasnya. (ils)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO