Oleh : Marham
Pergantian kepemimpinan di sebuah institusi media bukanlah peristiwa seremonial semata. Ia adalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ketika saya dipercaya menggantikan H. Agus Talino sebagai Pemimpin Redaksi Harian Suara NTB (Kelompok Media Bali Post di NTB), perasaan pertama yang muncul bukanlah kebanggaan, melainkan kesadaran akan amanah yang berat. Di NTB, ada beberapa media yang tergabung dalam KMB di NTB, seperti Suara NTB, Suara NTB.com, EkbisNTB.com dan Radio Global FM Lombok.
Jabatan Pemimpin Redaksi bukan sekadar posisi struktural. Ia adalah pusat pengambilan keputusan redaksional, penentu arah pemberitaan, sekaligus penjaga marwah dan idealisme media. Dalam konteks ini, tanggung jawab tersebut tidak mungkin dipikul sendiri. Ia adalah tanggung jawab bersamaantara pemimpin redaksi, wartawan, redaktur, manajemen perusahaan, hingga pembaca setia.
Tantangan membangun dan mempertahankan eksistensi media di era saat ini tidaklah ringan. Lanskap media berubah begitu cepat. Media online kini dapat lahir dengan sangat mudah, bahkan hanya bermodalkan dana ratusan ribu rupiah. Informasi mengalir tanpa sekat, tanpa jeda, dan sering kali tanpa verifikasi yang memadai. Situasi ini menempatkan media arus utama pada posisi yang menantang sekaligus menentukan.
Di sisi lain, kehadiran media sosial menjadi tantangan besar yang tidak bisa dihindari. Facebook, Twitter (X), TikTok, YouTube, Instagram Reel, hingga YouTube Short telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi. Kecepatan, visual, dan algoritma sering kali lebih dominan dibandingkan akurasi dan kedalaman.
Namun, media sosial seharusnya tidak dipandang sebagai musuh oleh perusahaan pers. Sebaliknya, ia harus dimaknai sebagai ruang baru yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan, memperkuat distribusi berita, serta mendekatkan media dengan pembacanya. Nilai utama media arus utama tetap pada kredibilitas, verifikasi, dan tanggung jawab etiksesuatu yang justru semakin dibutuhkan di tengah banjir informasi.
Di sinilah letak tantangan sekaligus peluang. Media harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Memanfaatkan media sosial sebagai saluran distribusi, tanpa terjebak pada sensasi. Mengikuti perkembangan teknologi, tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik. Menjadi cepat, namun tetap akurat.
Sebagai Pemimpin Redaksi, saya meyakini bahwa menjaga kualitas media bukan hanya tugas satu orang. Ini adalah kerja kolektif. Wartawan di lapangan, redaktur di meja redaksi, manajemen di balik layar, hingga pembaca yang kritis dan cerdassemuanya memiliki peran penting.
Tanggung jawab bersama inilah yang harus terus dirawat. Agar media tidak sekadar bertahan, tetapi tetap relevan, dipercaya, dan mampu menjalankan fungsinya sebagai pilar demokrasi di tengah perubahan zaman yang kian dinamis.
Di satu sisi, kita juga harus menyadari jika dalam mengembangkan diri dan usaha, jejaring atau networking merupakan kunci kesuksesan. Saya tetap ingat dengan motivasi atau nasihat setiap rapat Redaksi Suara NTB yang dipimpin H. Agus Talino, jika kamu ingin sukses, maka perbanyak kawan, sahabat dan jaringan. Kata-kata ini yang selalu kami ingat, karena dengan adanya pertemanan, persahabatan akan saling membantu, baik dari sisi bisnis ataupun personal.
Untuk itu, secara pribadi dan atas nama teman-teman di Suara NTB, kami menyampaikan banyak terima kasih pada para senior atas bimbingan pada kami dan dedikasi serta pengabdian yang telah diberikan selama ini. Di mana pun kita berada, rasa persaudaraan dan komunikasi yang telah terbangun selama ini harus tetap terjalin.
Begitu juga dengan seluruh rekan-rekan, mari kita bekerja dengan sungguh-sungguh. Suara NTB adalah rumah besar kita. Mari kita jaga dan menjadikan Suara NTB Group lebih baik dari sebelumnya. Dengan kerja sama dan kolaborasi kita semua, dengan izin Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Suara NTB akan tetap eksis dan semakin jaya. (*)



