spot_img
Kamis, Februari 19, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEFenomena Buih Cokelat di Teluk Bima, DLH Soroti Beban Nutrien dari Daratan

Fenomena Buih Cokelat di Teluk Bima, DLH Soroti Beban Nutrien dari Daratan


Kota Bima (Suara NTB) – Munculnya buih dan gumpalan biomassa berwarna cokelat di sejumlah titik perairan Teluk Bima dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima. Fenomena yang tampak jelas di kawasan pesisir Kota Bima hingga Amahami itu menjadi sinyal kuat meningkatnya tekanan pencemaran lingkungan laut.


Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DLH Kota Bima, Syahrial Nuryadin, menjelaskan bahwa hasil pemantauan lapangan dan uji laboratorium menunjukkan fenomena tersebut terjadi akibat proses eutrofikasi, yakni peningkatan kandungan nutrien di perairan yang memicu ledakan pertumbuhan alga dan fitoplankton.


Eutrofikasi ini muncul karena perairan menerima beban nutrien yang tinggi, terutama nitrogen dan fosfor. Ketika fitoplankton tumbuh berlebihan lalu mati, mereka membentuk biomassa seperti gel atau buih berwarna kecokelatan di permukaan laut, terangnya pada Sabtu (27/12/2025).


DLH Kota Bima melakukan pengamatan langsung di lokasi terdampak serta pengujian kualitas air laut melalui UPT Laboratorium DLH bersama Labkesda Kota Bima. Hasilnya, beberapa parameter kualitas air terpantau melampaui baku mutu sesuai Permen LHK Nomor 22 Tahun 2021, di antaranya kadar nitrat, amonia, fosfat, DO, BOD, serta total coliform.


Syahrial menegaskan, tingginya parameter tersebut berkaitan erat dengan masuknya bahan organik dan nutrien dari daratan. Limpasan air hujan dari permukiman, pertanian, peternakan, dan berbagai aktivitas ekonomi mengalir melalui sungai lalu bermuara ke Teluk Bima.


Pembukaan lahan di kawasan hulu, terutama untuk pertanian jagung, memperparah kondisi ini. Hutan yang gundul meningkatkan erosi dan sedimen, sekaligus membawa nutrien langsung ke perairan, ujarnya.


Selain itu, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, pembuangan limbah domestik rumah tangga, keberadaan kandang ternak di bantaran sungai, serta aktivitas perikanan budidaya turut menambah beban pencemaran. Sisa pakan dan kotoran dari keramba serta kolam ikut mempercepat proses eutrofikasi di teluk.


Faktor alam juga berperan memperkuat fenomena tersebut. Kondisi laut yang relatif tenang, intensitas sinar matahari yang tinggi, serta ketersediaan nutrien yang melimpah menciptakan lingkungan ideal bagi ledakan populasi alga. Fenomena ini bukan kejadian tiba-tiba. Ini akumulasi dari tekanan lingkungan yang terjadi cukup lama, kata Syahrial.


Saat ini, DLH Kota Bima terus melakukan pemantauan berkala, pengujian kualitas air secara periodik, serta koordinasi lintas OPD untuk mengendalikan sumber pencemar. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi langkah penting.

Syahrial mengajak masyarakat berperan aktif menjaga Teluk Bima. Ia meminta warga tidak membuang sampah dan limbah ke sungai atau laut, mengurangi penggunaan pupuk kimia, tidak membangun kandang ternak di bantaran sungai, serta mendukung rehabilitasi kawasan hulu.
Teluk Bima adalah aset bersama. Kalau kita ingin laut tetap sehat dan produktif, semua pihak harus ikut menjaga, bukan hanya pemerintah, tandasnya. (hir)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO