Tanjung (Suara NTB) – Forum Wartawan Lombok Utara menggelar Rapat kerja akhir tahun 2025, Senin – Selasa (29-30/12), di Bale Jukung, kecamatan Tanjung.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika KLU, Haerul Anwar, S. Kom., Kabag Prokopim Setda KLU, Lalu Gita Bayu Wibawa, S.STP., FWLU dan PWI Cabang Lombok Utara. Dalam diskusi tersebut, mencuat pola kemitraan yang kedepannya diatur dalam regulasi peraturan bupati. Selain itu, FWLU juga didukung untuk memberikan reward berupa Penghargaan kepada pejabat atau ASN non pejabat yang dinilai berprestasi, inovatif bagi perkembangan daerah.
Ketua FWLU, Datu Danu Putra Winata, S.Sos.I., memberikan penekanan kuat pada aspek etika jurnalistik. Ia mengingatkan anggotanya agar memiliki filter dalam memublikasikan peristiwa. Ia mencontohkan kasus sensitif seperti asusila yang melibatkan anak di bawah umur, menurutnya tidak sepatutnya dieksploitasi semata-mata mengejar rating pembaca tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.
“Seorang jurnalis harus punya pertimbangan matang, apakah sebuah peristiwa layak di-publish ke ruang publik atau tidak, meskipun itu fakta. Kita harus menghindari opini yang memojokkan atau hanya menguntungkan satu pihak,” ujarnya.
Di sisi lain, Datu Danu mengapresiasi dinamika positif organisasi pers di Lombok Utara. Ia menegaskan bahwa hubungan antara FWLU dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) KLU berjalan harmonis, saling mendukung, dan tidak memiliki konflik kepentingan dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Demikian pula jalannya fungsi kontrol media dalam pemerintahan di Lombok Utara, ia menilai berjalan dinamis.
Pada Raker ini, berkembang diskusi implementasi kemitraan antara media dengan Pemda Lombok Utara.
Kabag Prokopin, Lalu Gita Bayu W, mendukung wacana pemberian penghargaan (reward) kepada OPD. Selain itu, media juga bisa memberi masukan kepada Pemda terkait kerja-kerja OPD yang mendukung akselerasi pembangunan daerah.
“Pemberian apresiasi atau catatan kritis tidak semata-mata diukur dari ketersediaan anggaran publikasi di OPD terkait. Apresiasi tidak harus materi. Selembar piagam penghargaan bagi OPD yang komunikatif dalam memberikan informasi pun sangat bernilai sebagai motivasi OPD terkait,” papar Bayu.
Ia juga menekankan pentingnya keberimbangan berita. Menurutnya, paradigma bad news is good news (berita buruk adalah berita baik) kurang tepat. Pemerintah daerah membutuhkan kritik yang konstruktif, bukan sekadar mencari kesalahan.
Sementara, Kepala Dinas Kominfotik KLU, Haerul Anwar, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk hadir memfasilitasi kebutuhan mendasar insan pers. Pemkab kata dia, akan berupaya memfasilitasi pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang mendukung peningkatan kompetensi insan pers di Lombok Utara.
“Tidak hanya UKW untuk wartawannya, kami juga berkomitmen membantu dan mendampingi perusahaan-perusahaan pers lokal di sini agar bisa terverifikasi, baik secara administrasi maupun faktual oleh Dewan Pers. Ini penting untuk legalitas kemitraan ke depannya,” ucap Haerul Anwar.
Ke depan, Kominfo juga akan mendorong Perjanjian Kerjasama (PKS) yang jelas antara pemerintah dan media untuk menghindari kesalahpahaman. Menyusul ketatnya penggunaan anggaran negara untuk publikasi melalui media, maka kedepannya, Pemda akan mengeluarkan regulasi Perbup terkait kerjasama.
“Kita akan rancang kemitraan melalui Perbup. Mengenai kapan implementasinya, masih akan kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi kita di daerah,” tambahnya.
Sebagai informasi, Raker FWLU tahun 2025 memuat sejumlah catatan sebagai kesimpulan. Bahwa, tanpa kontrol media pembangunan tidak jalan maksimal; perusahaan media lokal diarahkan terdaftar di Dewan Pers; pewarta melalui UKW; kemitraan media diarahian melalui regulasi dan kesesuaian dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, piagam penghargaan kepada OPD akan mulai diimplementasikan oleh FWLU pada tahun 2026 mendatang. FWLU juga akan mengirimkan poin masukan hasil Raker kepada Bupati. Dimana salah satu penekanan adalah pemberian apresiasi oleh pembina ASN bagi pejabat/ASN berprestasi/inovatif dengan memberikan hadiah umrah. (ari)



