spot_img
Senin, Januari 5, 2026
spot_img
BerandaEKONOMIDari Cabai ke Melon Premium, Petani Jurang Jaler Buktikan Pertanian Bisa Naik...

Dari Cabai ke Melon Premium, Petani Jurang Jaler Buktikan Pertanian Bisa Naik Kelas

Mataram (suarantb.com) – Seorang petani di Desa Jurang Jaler, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, berhasil mengubah lahan cabai menjadi green house modern untuk budidaya melon premium. Langkah kreatif ini berhasil mendatangkan cuan, dengan omzet mencapai Rp15 juta dalam satu kali panen.

Petani ini namanya Sumarlin Azizi, ia memanfaatkan lahan seluas 3,6 are yang sebelumnya digunakan untuk menanam cabai. Kini, lahan tersebut disulap menjadi green house berisi 600 batang melon premium yang dibudidayakan menggunakan metode polybag dengan sistem pertanian modern berbasis teknologi.

Tak hanya menjual hasil panen, Sumarlin juga membuka wisata agro petik melon yang dapat dinikmati masyarakat Lombok Tengah dan sekitarnya. Konsep ini menarik perhatian warga karena pengunjung dapat langsung memetik buah dari dalam green house sekaligus menikmati pengalaman edukatif seputar budidaya melon.

“Untuk satu kilogram melon premium kami jual Rp30 ribu. Dalam sekali panen bisa menghasilkan sekitar lima kuintal, jadi omzetnya bisa sampai Rp15 juta,” kata Sumarlin, Jumat (2/1/2026).

Ia menjelaskan, inovasi tersebut berangkat dari keinginannya mencari alternatif komoditas pertanian bernilai tinggi. Pada awal 2024, ia mencoba menanam melon biasa, namun hasilnya belum maksimal dari segi rasa dan daya saing.

“Yang pertama kita tanam melon biasa, hasilnya bagus tapi kalah di tingkat kemanisan. Lalu yang kedua kita coba melon premium, Kirani dan Alisa,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, pada penanaman ketiga, Sumarlin kembali berinovasi dengan menanam varietas Lavender dan Kirana. Meski menghadapi tantangan cuaca, ia tetap mampu menghasilkan buah berkualitas.

“Yang lavender ini sebenarnya bernet, cuma karena pengaruh cuaca dan kurang kena sinar matahari, net-nya tidak keluar maksimal,” jelasnya.

Green house yang dibangun merupakan hasil pengembangan dari lahan cabai sebelumnya. Sistem pertaniannya kini telah terintegrasi dengan teknologi modern berbasis otomatisasi.

“Ini bekas lahan cabai, kita setting ulang jadi green house. Sistemnya sudah modern, sudah IT semua. Penyiraman dan pemupukan tinggal kita atur otomatis,” katanya.

Menurut Sumarlin, inovasi pertanian seperti ini sangat memungkinkan diterapkan oleh petani lain, terutama untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian sekaligus menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.

Ia berharap, keberhasilan ini bisa menjadi contoh bahwa pertanian tidak selalu identik dengan cara lama. Dengan pemanfaatan teknologi dan inovasi, petani mampu menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.

“Kalau dikelola dengan baik, pertanian itu sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana kita berani mencoba dan berinovasi,” pungkasnya. (bul)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO