spot_img
Rabu, Januari 7, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWA5.876 Masyarakat Sumbawa Terdampak Bencana Selama 2025

5.876 Masyarakat Sumbawa Terdampak Bencana Selama 2025

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa, mencatat sedikitnya ada sekitar 5.876 jiwa terdampak bencana selama tahun 2025 dengan kerugian material ditaksir mencapai puluhan miliar.

“Selama tahun 2025 ada 38 kejadian banjir yang kami tangani, paling parah di desa Labuhan Bontong dengan jumlah masyarakat 1. 483 jiwa atau 478 kepala keluarga (KK) dan tiga orang meninggal dunia,” kata Kepala Pelaksana BPBD, Muhammad Nurhidayat kepada Suara NTB, Senin, 5 Januari 2026.

Dayat melanjutkan, pada bencana angin puting beliung ada 331 jiwa, tanah longsor 116 jiwa dan gelombang pasang ada 300 jiwa. Selama tahun 2025, ada sekitar 19 orang meninggal dunia jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2024 lalu.

“Memang untuk tahun 2025 jumlah masyarakat terdampak bencana menurun tetapi di tahun 2025 ada 19 korban meninggal dunia dan di tahun 2024 tidak ada korban jiwa,” ujarnya.

Dayat turut menyebutkan ada beberapa faktor sehingga bencara terutama banjir kerap terjadi tiap musim penghujan. Tidak adanya tumbuhan vegetatif yang menyerap air hujan menjadi faktor utama terjadinya.

“Sekarang hampir sebagian besar tanaman vegetatif kita sudah tidak ada yang ada adalah tanaman jagung, karena untuk menanam jagung sampai rumput pun mati agar jagung bisa tumbuh, ” ucapnya.

Sehingga ketika hujan turun lanjut Dayat, langsung menghantam top soil dan lari ke sungai apalagi ketika hujan dengan intensitas tinggi. Mengatasi masalah tersebut, pemerintah harus berani bersama masyarakat untuk membatasi wilayah yang bisa ditanami jagung dan tidak boleh.

“Kita harus berani menekan kerusakan hutan, kalau tidak ya kita tetap akan dilanda banjir atau malah makin parah. Karena banyak kawasan hutan lindung yang ditanami jagung saat ini, ” sebutnya.

Faktor lainnya, memang tahun 2025 curah hujan yang terjadi sangat besar beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan belum puncak musim penghujan saja sudah terjadi banjir apalagi kalau sudah puncak musim penghujan.

“Kita ambil contoh saja di Karang Dima, airnya tidak melalui sungai dia naik tetapi karena hutannya sudah gundul maka air langsung menghantam terminal dan pemukiman masyarakat, ” tukasnya. (ils) 

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO