Mataram (suarantb.com) – Sejak akhir tahun 2025 hingga saat ini, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok di Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat kembali menghadapi masalah yang sama, yaitu sesaknya sampah mengharuskan Pemda melakukan pembatasan ritase. Pembatasan ritase berdampak langsung pada menumpuknya sampah di sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Kota Mataram.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB, Ir Ahmadi, mengatakan akar persoalan sampah di Kebon Kongok terletak pada kegagalan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Sampah yang seharusnya dipisahkan antara organik dan non organik justru dibuang secara bercampur ke TPAR Kebon Kongok.
Akibatnya, daya tampung lokasi pembuangan regional tersebut nyaris penuh. Padahal, pemerintah provinsi sebelumnya telah melakukan perluasan dan optimalisasi lahan seluas 25 are pada tahun 2025 dengan anggaran lebih dari Rp3 miliar. Namun, langkah tersebut hanya mampu menahan lonjakan volume sampah dalam waktu singkat sebelum akhirnya TPAR kembali mengalami kepadatan.
“Kita gagal di pemilihan sampah, kita ini masih semua jenis sampah buang ke TPAR. Itu sebabnya kenapa TPAR cepat penuh kapasitasnya,” ujarnya, Selasa, 6 Januari 2026.
Ia menjelaskan, sistem pengelolaan di TPAR Kebon Kongok saat ini mengandalkan metode penimbunan sampah organik. Sementara sampah non organik idealnya melalui proses pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang. Namun karena tidak dipilah sejak awal, seluruh jenis sampah akhirnya ditimbun bersama.
Kepala Pelaksana BPBD NTB itu menuturkan Pemprov masih memiliki opsi untuk menambah kapasitas TPAR. Masih terdapat sisa lahan di antara landfill lama dan landfill aktif yang berpotensi dioptimalkan. Namun pemanfaatan lahan tersebut tidak dapat dilakukan secara langsung. Pemerintah harus terlebih dahulu membangun talut di sisi kiri dan kanan guna mencegah potensi longsor dan tercecernya sampah di area sekitar. “Kita buatkan talut di sisi kanan dan kiri supaya tidak tercecer di hulu,” katanya.
Meski kapasitas TPAR Kebon Kongok saat ini sudah padat, Ahmadi menegaskan belum ada opsi penutupan TPAR. Ia kembali mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.
Saat ini, komposisi sampah didominasi oleh sampah organik yang mencapai sekitar 60 persen, sedangkan sisanya merupakan sampah non organik. Tanpa pemilahan yang baik, seluruh sampah tersebut akan terus menumpuk dan mempercepat penuhnya TPAR Kebon Kongok. (era)


