spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaBUDAYA DAN HIBURANMerawat Ingatan Lewat Sejarah Kekerasan

Merawat Ingatan Lewat Sejarah Kekerasan

INGATAN (memori) adalah salah satu hadiah terbesar Tuhan kepada ciptaannya, khususnya manusia. Hanya saja, ingatan tidak selalu tersusun dari kenangan baik, memori buruk (trauma) juga kadang ikut menumpuk dan membekas di ingatan manusia.

Perihal ingatan itulah yang menjadi isu utama dalam buku kumpulan kerpen (Kumcer) teranyar Kiki Sulistyo, penulis asal Lombok, berjudul “Musik Akhir Zaman”. Namun, alih-alih menampilkan ingatan indah yang penuh canda tawa, Kiki justru menampakkan memori kelam tentang kekerasan oleh kekuasaan (negara, manusia itu sendiri, bahkan manusia terhadap binatang).

Seperti diakui Kiki di pengantar buku ini, cerpen-cerpen dalam “Musik Akhir Zaman” beririsan dengan dunia traumatis akibat sejarah kekerasan. Entah dari peristiwa faktual maupun fiksional dan menjadi ingatan kolektif banyak orang. Bahkan, tokoh-tokoh dalam Kumcer ini sangat dekat dengan sejarah-sejarah itu.

Seperti Harto (Soeharto Presiden ke-2 Indonesia), Horta (Ramos Horta, Presiden Timor Leste), Van Ham (Jenderal Kolonial Belanda), Kurt Cobain (Penyanyi Rock, mati menembak kepalanya sendiri), Anton Cheko (cerpennya dekat dengan isu kekerasan), Kusni Kasdut (mantan pejuang kemerdekaan yang berubah menjadi penjahat), Amrozi (pelaku bom Bali), Thalib (Munir Thalib, pejuang HAM).

Kiki Sulistyo banyak menghadirkan memori kelam pada Kumcer Musik Akhir Zaman ini (seterusnya akan disingkat MAZ). Ada 16 Cerpen dalam Kumcer ini dan saya akan bahas beberapa saja.

Cerpen Hulk Gang Melayu misalnya. Bercerita tentang Ismael–salah satu anak yang tinggal di sekitar Gang Melayu–yang punya sifat unik dan lucu. Ketika sedang marah, Ismael akan menampakkan wajah geramnya sembari merobek bajunya–layaknya film Hulk. Oleh kebiasaan itu, anak-anak di Gang Melayu kerap memanggilnya Hulk, tapi–entah karena alasan apa–mereka menambah huruf “E”, sehingga namanya menjadi “Hulek”.

Ismael dan anak-anak Gang Melayu menjalani kehidupan selayaknya bocah pada umumnya. Namun, suatu ketika kebiasaan Ismael marah-marah sambil merobek baju ala Hulk itu hilang setelah Om Nahar, ayahnya tak lagi kelihatan batang hidungnya. Om Nahar berparas seram–bertubuh tinggi, brewokan, dan bertato. Tak ada yang mengetahui kemana Om Nahar pergi. Namun, satu hal yang pasti, kehilangannya bersamaan dengan peristiwa Hantu Petrus yang bergentayangan. Mengingatkan kita pada peristiwa kelam Penembakan Misterius (Petrus) Zaman Orba.

Pada Cerpen “Pelor di Tembok Gudang”, perdebatan sengit dua bocah–Lin Munru dan Marlon–juga dua tokoh lain tak bernama, ihwal sebuah pelor yang bercokol di tembok gudang membawa kita ke peristiwa penting masa lalu. Lin Munru bersikeras bahwa benda di dalam tembok gudang itu adalah Pelor milik Tuan Van Ham (Jenderal Van Ham). Itu diketahuinya setelah menguping dua tokoh dewasa dalam cerita.

Sementara, Marlon menyebut itu adalah permata. Persoalan siapa yang benar dan salah menjadi tak penting. Yang pasti, perdebatan itu mengingatkan kita pada peristiwa perang Kerajaan Mataram, Lombok dengan Pemerintah Kolonial Belanda, pada 1892-1894 yang menewaskan ratusan orang, termasuk Jenderal Van Ham itu sendiri.

Cerpen lain adalah “Lubang”. Tentang sebuah keluarga yang hidup di zaman huru-hara bangsa Indonesia. Tokoh aku masih mengingat bagaimana gentingnya masa itu. Sampai-sampai ayahnya harus menggali lubang untuk dijadikan tempat berlindung pamannya dari “orang-orang jahat” sebab berbeda partai. Mengingatkan kita pada peristiwa penting 1965-1966, di mana orang yang berideologi berbeda dengan penguasa diberangus hampir tanpa sisa.

Sementara itu, Cerpen MAZ yang menjadi judul Kumcer ini membahas sejarah fiksional tentang akhir zaman. Si pencerita dalam cerpen ini berdialog dengan tokoh rekaannya sendiri bernama Hililyah. Melalui dialog itu, si pencerita dan Hililiyah–yang itu sebenarnya adalah dirinya sendiri–membahas tentang terompet di suatu tempat yang jauh. Terompet tersebut diceritakan berasal dari tanduk binatang tanpa rupa hanya bersuara yang dibunuh oleh seorang perempuan.

Diceritakan juga, ketika terompet itu ditiup, gunung-gunung akan berbenturan dan keadaan menjadi “chaos”. Suara benturan gunung yang diiringi bunyi terompet itu menjadi alunan musik, musik akhir zaman.

Cerpen ini seperti hendak berbicara tentang kehancuran. Kehancuran oleh terompet. Terompet dari tanduk binatang yang dibunuh. Bila bisa dikatakan kesimpulan–tapi sebaiknya tidak–cerpen ini hendak mengatakan, berlaku buruk terhadap binatang bisa mengakibatkan kehancuran.

Melalui MAZ, Kiki Sulistyo hendak merangkum peristiwa faktual dan fiksional dalam sejarah ingatan bangsa. Dengan demikian, membaca cerpen-cerpen dalam Kumcer MAZ karya Kiki Sulistyo menjadi relevan untuk dibaca saat ini.

Apalagi, di tengah kondisi bangsa saat ini, membaca MAZ mengingatkan kita bahwa penguasa lalim akan melakukan segala cara untuk menutup mulut mereka yang bersuara nyaring membela hak-hak manusia dengan cara-cara refresif dan brutal.

Sepertinya Kiki Sulistyo punya cara lain dalam upaya menjaga ingatan traumatis akibat modus kekerasan tersebut. Yakni dengan menghadirkan peristiwa kelam sekaligus pilu berikut pelaku di dalamnya. Dalam Kumcernya ini juga, kita juga diingatkan, ketika penguasa berlaku jahat, seseorang harus mencatat. Agar, ingatan kita tetap terawat, dan generasi selanjutnya bisa mengingat bahwa bangsa ini punya sejarah kekerasan akibat tangan kekuasaan. (Sibawaeh)

Data Buku:

Judul Buku: Musik Akhir Zaman
Penulis: Kiki Sulistyo
Cetakan Pertama: Januari 2024
Penerbit: Indonesia Tera
Jumlah halaman: 183
Ukuran: 3x 19 cm

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO