Giri Menang (suarantb.com) – Gumesa, Desa Giri Tembesi Kecamatan Gerung Lombok Barat (Lobar) telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan kain tenun. Nama Gumesa sejajar dengan Sukarara di Lombok Tengah, Pringgasela di Lombok Timur dan lainnya. Namun saat ini, dalam mempertahankan eksistensi atau pelestarian kain tenun ini para perajin menghadapi tantangan berat, yakni regenerasi dan modal usaha.
“Tantangan berat kami memang bagaimana mempertahankan (regenerasi) perajin tenun ini supaya tetap lestari. Dan kami pun terus berupaya mengajarkan ke anak-anak di sini agar mencintai tenun,” ungkap Ketua Kelompok Tenun ATBM UD Darmayasa Gumise, Ni Wayan Landri ditemui akhir pekan kemarin.
Tradisi bertenun di kampung ini sudah ada sejak dulu. Warga menenun kain di rumah mereka masing-masing. Kemudian setelah itu, Ni Wayan Landri dibantu oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lobar beberapa tahun silam. Para penenun dibangunkan gedung pusat tenun pada pemerintahan Bupati H. Iskandar. Dalam perjalanannya, kelompok ini punya puluhan alat tenun dan membina sekitar 20 penenun yang semuanya perempuan setempat.
Namun sekarang banyak di antara perajin yang berhenti, karena sudah tua dan memilih beralih profesi. Ia sendiri telah banyak melatih anak-anak usia sekolah untuk menenun guna meneruskan atau regenerasi penenun tersebut. Hanya saja, anak-anak sekarang tidak menekuni, karena kebanyakan mereka ingin bekerja yang lain.
Namun ia akan terus berusaha bagiamana regenerasi penenun tetap ada di daerah itu. Salah satu upayanya melalui perkumpulan ibu PKK Desa, bisa melanjutkan dan menjaga kelestarian tenun ini.
Kendala lainnya, terkait modal. Dari sisi peralatan sendiri masih lengkap. Ia memilki alat lebih dari 20 unit ATBM. Jika memang tenun ini serius dihidupkan lagi, maka ia pun bisa menggunakan alat itu.
Sementara itu, Kepala Desa Giri Tembesi, Naharudin mengatakan tak menampik kondisi tenun Gumise yang kian meredup. Pihaknya sendiri tak tinggal diam. Melalui DD, ia mengintervensi dari sisi pelatihan dan baku untuk menenun. “Kami sudah berkomunikasi dengan ketua penenun, Kita akan kerja sama dengan PKK. Nanti kami bantu beli benang dan pelatihan,” kata dia.
Perajin tenun akan mengajarkan PKK untuk menenun. Selain itu, pihaknya akan melibatkan BUMDes untuk membantu pendanaan. Tahun ini, pelatihan dipusatkan di kantor desa dan Dusun Gumise Tengah. Pihaknya bersama perajin akan membawa alatnya untuk kegiatan pelatihan. Jumlah peserta yang akan dilatih sebanyak 20 orang anggota PKK.
“Ini upaya kami untuk melestarikan. Kasihan, seperti kata perajin, dibilang mati suri tidak, dibilang tidak mati suri, ya mati suri. Makanya kami mau bangkitkan lagi dengan cara pelatihan,” imbuhnya.
Sementara itu, Pemkab melalui Camat Gerung Fitriati Wahyuni mengakui selain modal, kendala penenun Gumise adalah regenerasi. Untuk itu pihaknya melakukan upaya mempertahankan tenun ini melalui kegiatan DWP mengangkat wastra lokal, salah satunya mendorong anggota membeli tenun lokal Gumise.
Pihaknya sendiri bersama ketua TP PKK sudah turun ke lokasi. Para perajin belum mampu memenuhi pesanan untuk pakaian dalam partai besar. Namun demikian pihaknya berharap ke depan Pemkab mengakomodir produk tenun para perajin ini untuk pakaian khusus ASN atau kegiatan OPD Pemkab. “Ya kalau ada kepastian yang beli, produksi mereka mungkin lebih berkelanjutan,” imbuhnya. (her)


