spot_img
Senin, Januari 26, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURJumlah Terus Bertambah, BKKBN Dorong Lansia Terus Produktif

Jumlah Terus Bertambah, BKKBN Dorong Lansia Terus Produktif

Selong (suarantb.com) – Jumlah lansia yang terus bertambah menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait kemiskinan dan ketergantungan. Menyikapi hal ini, Sekolah Lansia hadir sebagai solusi untuk mendorong lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan tidak menjadi beban keluarga.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi NTB, Dr. Drs. Lalu Makripuddin, M.Si., dalam rangkaian wisuda Sekolah Lansia di Lombok Timur (Lotim), Senin (12/1/2026). Wisuda Standar 2 (S2) kali ini merupakan yang kedua di NTB dan pertama di tahun 2026. “Lansia diharap tidak jadi beban keluarga. Jadi sehat, mandiri, dan produktif,” tegas Makripuddin.

Ia memaparkan data yang mengkhawatirkan. Secara nasional, jumlah lansia diproyeksikan mencapai 27 juta jiwa pada 2025, atau sekitar 22 persen populasi, dan akan terus meningkat. Di Lotim sendiri, lansia sudah mencapai 7 persen dari total penduduk atau sekitar 1,5 juta jiwa.

“Lansia makin banyak, tapi begitu masuk lansia semakin miskin. Begitu pensiun, tidak memiliki jaminan sosial. Passive income tidak ada. Sebelumnya pendapatan menengah, sekarang merosot. Ini masalah kemiskinan,” jelasnya.

Ditambah lagi, hampir 50 persen lansia menghadapi masalah kesehatan dan kesulitan berobat. Oleh karena itu, sekolah lansia dikembangkan untuk mengatasi persoalan multidimensi ini. Harapannya, pada 2045 tidak ada lagi lansia yang menjadi beban, melainkan menjadi bonus demografi kedua.

Sekolah Lansia berbeda dengan sekolah formal. “Sekolah lansia, lebih banyak humor. Jadi lansia sehat dan tetap bergerak, tidak diam di rumah. Tidak mudah marah karena akan datangkan penyakit,” ujar Makripuddin tentang metode pembelajarannya.

Asisten III Setdakab Lotim, Husnul Basri, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa wisuda ini merupakan peresmian dengan upacara khidmat. Sekolah Lansia memiliki jenjang Standar I, II, dan III. “Harapkan ada Standar III (S3), yakni punya keterampilan, ada nilai tambah,” ujarnya.

Menurut Husnul, program ini dilakukan untuk memajukan Lotim. Dengan meningkatkan produktivitas lansia, diharapkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah yang masih tertinggal dibanding daerah lain dapat terdongkrak.

“Prinsipnya, orang tua harus sehat. Pada usia kurang produktif, dengan Sekolah Lansia bisa menjadi produktif lagi. Menjadi lansia yang mandiri, tidak bergantung,” tegasnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim, Dr. H. M. Hasbi Santoso, menjelaskan bahwa Sekolah Lansia terintegrasi dengan program Bina Keluarga Lansia. Kegiatan yang digelar di Bagik Payung Selatan ini memberikan materi kesehatan jasmani, spiritual, pemenuhan gizi, hingga deteksi dini penyakit.

“Setelah diwisuda November 2024, ada yang mengembangkan keterampilan memasak, seni, dan lain-lain,” ujarnya. Peserta angkatan ini berjumlah 50 orang, terdiri dari 11 pria dan 39 wanita.

Meski saat ini baru mencapai Standar 2, ada rencana untuk mengembangkan ke Standar 3 dengan memberikan keterampilan yang meningkatkan nilai ekonomis. “Diberikan keterampilan mengolah bahan sehingga bernilai ekonomis. Ada rencana Standar 3 mengolah cabai, masih dalam proses persiapan,” papar Hasbi.
Kedua pihak berharap agar program Sekolah Lansia dapat terus dikembangkan hingga ke desa-desa lain di seluruh NTB, guna memberikan kebahagiaan, kesehatan, dan kemandirian bagi para lansia. (rus)

 

 

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO