spot_img
Jumat, Januari 30, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMWaspada Gelombang Pasang

Waspada Gelombang Pasang

PEMERINTAH Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, mengimbau para nelayan yang hendak melaut serta warga yang bermukim di kawasan pesisir pantai agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem dan gelombang pasang. Imbauan ini ditujukan khususnya kepada warga di tiga lingkungan rawan, yakni Lingkungan Bugis, Bintaro Jaya, dan Pondok Perasi.

Ketiga lingkungan tersebut dinilai memiliki risiko tinggi terhadap dampak gelombang pasang karena berada langsung di wilayah pesisir dan berhadapan dengan laut lepas. Potensi banjir rob dan abrasi diperkirakan dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama pada periode awal tahun.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Zainuddin Abdul Majid (ZAM). BMKG memprediksi adanya pengaruh siklon tropis yang berpotensi melanda hampir seluruh wilayah perairan NTB, termasuk kawasan pesisir Ampenan dan Sekarbela di Kota Mataram.

Lurah Bintaro, Rudy Herlambang, mengatakan warga yang tinggal di tepi pantai perlu lebih waspada mengingat kondisi cuaca laut yang tidak menentu. Ia juga mengingatkan para nelayan agar mengurangi aktivitas melaut apabila terjadi gelombang tinggi.

“Kalau sekiranya terjadi gelombang besar, sebaiknya aktivitas di laut dikurangi. Ini demi keselamatan nelayan karena risikonya cukup tinggi,” ujarnya, Senin (12/1).

Menurut Rudy, masyarakat pesisir Bintaro pada dasarnya sudah memiliki pengalaman dan kesiapsiagaan menghadapi gelombang pasang, belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya yang kerap mengakibatkan banjir rob dan abrasi.

Meski demikian, pemerintah kelurahan tetap aktif melakukan imbauan melalui kepala lingkungan serta berkoordinasi dengan Satuan Tugas Bencana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram untuk memastikan kewaspadaan warga tetap terjaga.

“Untuk kondisi cuaca beberapa minggu terakhir, Alhamdulillah masih terpantau aman dan relatif kondusif. Namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan,” kata Rudy.

Ia menambahkan, pemasangan tanggul sementara oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram cukup membantu dalam meredam hantaman gelombang laut. Kendati demikian, warga berharap adanya pembangunan tanggul permanen agar memberikan rasa aman jangka panjang.

Lebih lanjut Rudy mengungkapkan, abrasi di kawasan pesisir Bintaro hampir terjadi setiap tahun. Bahkan, dampak abrasi dan banjir rob terparah tercatat terjadi pada awal tahun 2025, di mana air laut masuk hingga ke dalam rumah warga dan menyebabkan kerusakan permukiman.

“Ini menjadi perhatian bersama agar penanganan pesisir ke depan bisa dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan,” pungkasnya. (pan)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO