Di balik rimbunnya mangrove yang kini menjadi ikon wisata Desa Jerowaru, Lombok Timur, tersimpan cerita getir para perintis. Bale Mangrove, ekowisata yang hari ini ramai dikunjungi dan dibanggakan banyak pihak, lahir dari keringat, idealisme, dan ketekunan sekelompok anak desa yang memilih bertahan ketika kawasan itu masih dianggap tak bernilai.
Salah satu dari mereka adalah Lukman, pengurus Bale Mangrove yang kini menghadapi kenyataan pahit. Kepada Suara NTB, Selasa, 13 Januari 2026, Pemuda Pelopor Lotim 2023 mengakui masa jabatan kepengurusan mereka secara sah masih berlaku hingga tahun 2027. Namun di tengah perjalanan, mereka justru dipaksa berhenti—bukan melalui mekanisme evaluasi, bukan pula melalui dialog, melainkan lewat tekanan dan pengambilalihan pengelolaan.
Ia mengenang masa ketika Bale Mangrove hanyalah kawasan mati—kumuh, dipenuhi sampah, dan tak seorang pun melirik. “Waktu itu, tidak ada yang peduli. Banyak yang menjauh. Tapi kami justru memilih tinggal, membersihkan, dan membangun,” tuturnya.
Dengan tangan mereka sendiri, para pengelola membersihkan tumpukan sampah. Dengan pikiran mereka sendiri, konsep ekowisata dirancang. Tidak ada investor, tidak ada jaminan. Yang ada hanya keyakinan bahwa kawasan mangrove ini bisa menjadi ruang hidup bagi alam dan masyarakat.
Bale Mangrove, kata Lukman, bukanlah ekowisata yang hadir seketika. Ia adalah ekowisata rintisan—lahir dari proses panjang yang penuh coba-coba, jatuh bangun, kegagalan, dan perbaikan. “Lebih dari 95 persen konsep, sistem, dan fasilitas yang ada sekarang adalah hasil kerja keras pengelola lama,” ujarnya.
Ironisnya, ketika Bale Mangrove telah tumbuh dan mulai memberikan manfaat ekonomi serta kebanggaan bagi desa, para perintis justru tersingkir. “Hari ini, hasil kerja itu dinikmati oleh pihak-pihak yang sebagian besar tidak pernah ikut berjibaku saat tempat ini masih terkumuh,” kata Lukman.
Ia menegaskan bahwa mereka tidak merasa kalah. “Yang kalah itu rasa keadilan. Yang terluka itu semangat merintis,” ucapnya. Jika perjuangan yang dibangun dengan keringat dan ide bisa diambil alih begitu saja, ia mempertanyakan siapa yang masih mau memulai dari nol di masa depan.
“Siapa yang masih mau merintis, kalau ujungnya hanya menjadi penonton dari hasil karyanya sendiri?” katanya lirih.
Menurut Lukman, seluruh konsep Bale Mangrove memiliki nilai yang nyata. Jika dihitung secara profesional—mulai dari ide, desain, sistem pengelolaan, branding, hingga pengembangan fasilitas—nilainya tidak kecil. Namun yang mereka perjuangkan bukan semata uang. “Yang kami minta adalah penghargaan terhadap proses, etika, dan keadilan,” harapnya.
Di tengah gemerisik daun mangrove yang ditiup angin pantai Jerowaru, Lukman dan rekan-rekannya masih menyimpan satu harapan: keadilan bagi para perintis, pengakuan atas perjuangan, dan penghormatan terhadap karya yang lahir dari ketulusan. Sebab, membangun itu sulit. Merintis itu melelahkan. (ham)



