Giri Menang (suarantb.com) – Korban bencana di sejumlah dusun di Desa Persiapan Kecamatan Sekotong, Lombok Barat merasakan dampak dahsyatnya banjir bandang yang melanda Selasa (13/1/2026) malam lalu. Air bah setinggi satu meter secara tiba-tiba menerjang pemukiman mereka menghanyutkan rumah, perabotan dan ternak-ternak mereka.
Kerugian dialami warga yang rumahnya hancur, padahal rumah itu baru dikredit. Warga juga was-was ancaman banjir susulan. Pantauan di lokasi, dahsyatnya banjir masih tersisa dari kondisi pemukiman penduduk. Tampak sejumlah lokasi masih tergenang air. Pekarangan rumah warga masih dipenuhi lumpur.

Sejumlah rumah warga, terlihat masih belum dibersihkan dari sisa lumpur yang terbawa banjir. Sampah yang terbawa banjir juga masih terlihat tersangkut di rumah warga dan saluran drainase. Kandang ternak warga juga tak luput dari sapuan banjir. Beberapa warga membersihkan sisa lumpur dari dalam rumahnya menggunakan peralatan seadanya. Perabotan dan alat elektronik yang masih bisa diselamatkan dijemur di halaman.
Daerah ini menjadi titik terparah terdampak banjir, karena pemukiman warga berada di pinggir sungai. Asro, korban bencana yang rumahnya rusak diterjang banjir menuturkan menceritakan banjir menerjang sekira masuk waktu magrib. Ketika itu ia sedang duduk di serambi rumahnya.
“Saya kaget tiba-tiba banjir datang, akhirnya saya lompat (keluar rumah),” tuturnya, Rabu (14/1/2026).
Semakin lama banjir semakin besar, ia pun tak sempat mengungsi. Ketika air bah semakin membesar meluap dari sungai yang berada tak jauh dari lokasi. Ketinggian banjir pun setinggi dadanya, mengakibatkan rumahnya ambruk. “Rumahnya ambruk. Ya karena kebetulan rumahnya kan kurang bagus kan jelek,” imbuhnya.
Ia pun begitu sedih menyaksikan rumah dan isinya hancur digerus banjir. Kesedihannya juga karena rumah itu baru saja dibeli. “Itu pun baru saya beli itu, kredit lagi,” imbuhnya.
Ia pun sangat berharap agar dibantu Pemkab untuk membangun rumahnya. Terlebih ia mengaku tak memiliki pekerjaan tetap, sehingga tidak ada penghasilan tetap per bulan.
Ia berprofesi sebagai buruh ternak dengan sistem ngadas. Jika sapi beranak tahun ini, maka pedet atau anak sapi itu menjadi bagiannya. Sedangkan anak berikutnya menjadi hak pemilik ternak. Ia mendapatkan penghasilan satu kali setahun. Sementara ia harus menghidupi tiga anak. “Anak saya tiga, pekerjaan ngarat sampai (beternak). Kalau hitung penghasilan sebulan tidak ada, saya dapat satu tahun sekali,” ujarnya.
Sementara, Kepala Dusun Bengkang, H. Zohdi Akbar mengatakan di daerah itu sering kali dilanda banjir ketika hujan dengan intensitas bervariasi. “Sering (dilanda banjir) kalau hujan. Ini sudah yang besar,” katanya.
Ketika banijr besar melanda Selasa lalu, curah hujan di daerah itu tidak terlalu besar. Namun hujan di daerah hulu, di Lombok Tengah curah hujannya besar. Sehingga air bah dari hulu meluap ke pemukiman warga.
Terlebih sungai di daerah itu dialiri air yang sumbernya dua yakni dari Lombok Barat dan Lombok Tengah. Kondisi diperparah dengan pendangkalan sungai dan beronjong sungai. Warga pun saat ini masih was-was banjir susulan, ditengah situasi musim hujan ini. “Warga was-was (banjir susulan lagi),” aku dia.
Untuk itu, pihaknya berharap agar sungai itu dikeruk dan ditalud untuk menghalau air ke pemukiman warga.
Sementara itu Pj Kepala Desa Persiapan Pengantap Saidi berharap agar dampak bencana di Daerahnya segera ditangani. Pihaknya sudah berkomunikasi dengan Bupati dan Gubernur meminta drainase dinormalkan. “Nanti sungai akan di keruk. Untuk dibuatkan tanggul,” imbuhnya.
Daerah itu kerap banjir, kemungkinan karena di atas sungai ini tembus dari Lombok Tengah lalu mengalir ke daerah itu. “Artinya dua kabupaten ini yang harus kerja sama,”harapnya. (her)


