Mataram (suarantb.com) – DPD Partai Demokrat NTB dibawah komando Plt Ketua, Si Made Rai Edi Astawa terus memperkuat konsolidasi internal. Merapikan struktur mesin politik partai sampai ke akar rumput menjadi prioritas utama menjelang perhelatan pemilu 2029 mendatang.
Agenda politik internal Demokrat dalam waktu dekat ini adalah melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda) untuk seluruh pengurus DPD dan DPC partai Demokrat di seluruh Indonesia, termasuk di NTB. Musda tersebut merusak salah satu langkah konsolidasi untuk menyegarkan kepengurusan partai.
Menurut Si Made Rai, seluruh proses Musda telah diatur secara rinci melalui peraturan organisasi sebagai penjabaran dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Berdasarkan keputusan DPP Demokrat, Musda dijadwalkan pada Februari mendatang.
“Untuk peraturan organisasi sebagai penjabaran dari AD/ART sudah kami buat. Di bawah peraturan organisasi ada juklak dan juknis. Itu untuk mengawal pelaksanaan Musda agar tetap on the track sesuai tujuan dan tidak menyisakan masalah,” ujarnya pada Minggu malam (18/1/2026).
Ia menegaskan, proses Musda menjadi sangat penting karena menyangkut keberlangsungan dan soliditas partai. Menurutnya, kehilangan satu kader saja merupakan kerugian besar bagi Demokrat.
“Kalau satu kader keluar dari Demokrat itu kerugian besar. Satu kader utama bisa membawa beberapa konstituen. Itu yang tidak diinginkan Partai Demokrat,” ucapnya.
Si Made menjelaskan, mekanisme penjaringan calon ketua DPD dilakukan secara bottom up, di mana pemilik suara dari tingkat bawah memberikan dukungan. “Kalau Musda akan disegerakan ketika kondisi Demokrat NTB sudah siap,” jelasnya.
Ia memaparkan, syarat bagi calon ketua DPD adalah mengantongi minimal 20 persen dukungan pemilik suara. “Misalnya ada yang mau maju jadi Ketua Demokrat NTB, syaratnya mendapat dukungan minimal 20 persen dari total pemilik suara. Kalau sudah memenuhi, statusnya baru bakal calon,” katanya.
Selanjutnya, kepastian penetapan jadwal Musda Demokrat NTB masih menunggu keputusan DPP, mengingat sejumlah provinsi lain telah menyelesaikan Musda dengan mekanisme aklamasi. “Aklamasi itu ketika pemilik suara kompak, tidak perlu kompetisi. Langsung mengusung satu nama,” kata Made menegaskan.
Ia berharap mekanisme serupa juga dapat diterapkan di NTB demi menjaga persatuan dan menekan konflik internal. “Saya berharap para pemilik suara bisa menurunkan ego, tidak perlu ada persaingan. Kondisi Demokrat saat ini terdengar paling sedikit, paling junior. Kalau tidak solid dalam konsolidasi, itu kerugian besar,” ujarnya.
Meski demikian, Si Made Rai menegaskan bahwa Demokrat tetap menjunjung tinggi prinsip demokrasi internal. “Kita bukan partai yang tinggal tunjuk. Di Demokrat, suara dari bawah tetap dihormati. Kalau calon lebih dari satu, keputusan akhir tetap ada di ketua umum setelah proses bottom up,” jelasnya.
Ia berharap Musda Demokrat NTB dapat melahirkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa partai lebih besar ke depan. “Mudah-mudah Demokrat mendapatkan pimpinan yang benar-benar bisa mengawal program kerja, visi-misi, dan kebesaran Partai Demokrat,” pungkasnya. (ndi)


